Tanpa sadar, langkah kaki kita seragam.
Kau di depan sana, melangkah tegak dengan kaki-kaki besar mu.
Aku terhenyak sepersekian detik, mengingat kaki-kaki itu biasanya berlarian bersamaku.
Kemudian segera aku sadarkan diriku.
Saat ini, meski kita menghirup udara yang sama,
Kau dan aku, sudah berbeda.
Dan kenyataan itu, sudah cukup untuk membuat langkahku berhenti.
Jarak yang semesta ciptakan sudah terlalu besar untuk bisa kuperangi sendiri.
Dari tempatku berdiri, aku mematung melihat punggungmu menjauh.
Kemudian dalam hati, aku mengaduh.
Aku tidak ingin membuang waktuku, namun, sepuluh menit ke depan, bolehkah aku menyandarkan kepalaku pada memori tentangmu?
Aku ingin menangis sejadinya.
Aku masih merindukanmu.
Kurasakan dingin di malam yang hangat,
Dan kurasakan sunyi di sela hari yang sibuk.
Seperti katamu, aku pandai mengiringi.
Maka biarlah kuiringi kepergianmu dengan senyum menggoda.
Seperti katamu, aku pintar bernegosiasi.
Maka biarlah rasa sedihku, kutukar dengan hidup yang seribu kali lebih baik bila tanpamu.
Nan seperti katamu, aku pandai mencintai.
Untuk yang satu ini, Kau benar lagi.
Aku terlalu pandai mencintaimu, terlalu pandai —sampai tidak tahu caranya berhenti.
Kurasakan dingin di malam yang hangat,
Kurasakan sunyi di hari yang sibuk.
Dan kurasakan rindu, di hati yang penuh benci. Padamu.
Sekeloa, boelan 02,2024