Kalau di rumahmu ada cermin yang ditutup kain, terutama kain hitam, terutama yang dijahit rapi di keempat sisinya dan sudah bertahun-tahun tidak dibuka, aku minta satu hal saja: biarkan tetap begitu. Jangan menengoknya diam-diam. Jangan berdalih ingin tahu. Ada orang-orang yang menutup sesuatu bukan karena takut, melainkan karena mereka sudah membayar mahal untuk mengetahui apa yang ada di baliknya.
Aku menulis ini setelah semuanya selesai. Aku ingat semuanya dengan jelas, lebih jelas daripada yang pantas diingat siapa pun. Setiap kata, setiap jeda, setiap bau debu dan minyak cendana di rumah itu. Aku akan menceritakannya dengan runtut, sebab hanya dengan cara itu aku bisa membuatmu mengerti mengapa semuanya berjalan seperti yang kuceritakan.
Dan mengapa aku tidak menyesalinya sebanyak yang seharusnya.
Rumah di Karangturi
Eyangku, Hartono Wirasatya, meninggal pada pagi Selasa bulan Maret di usianya yang kesembilan puluh. Ia meninggal di tempat tidur kayu jati di rumahnya di Lasem, dalam tidur, tanpa sakit, tanpa pesan. Itu cerita yang beredar di keluarga. Cerita yang mudah diterima: orang tua yang hidup lama dan pergi pelan-pelan.
Aku, Raka, cucu satu-satunya dari anak laki-laki satu-satunya, datang dari Jakarta dengan kereta malam. Umurku tiga puluh empat. Aku bekerja sebagai penyunting naskah di sebuah penerbit yang bulan lalu memutuskan tidak memperpanjang kontrakku. Dalam waktu yang sama, seorang perempuan bernama Alin, yang selama enam tahun menjadi satu-satunya orang yang kuajak makan malam tanpa perlu berpura-pura, mengemasi barang-barangnya dari apartemenku dan meninggalkan kuncinya di atas kulkas. Aku datang ke Lasem dalam keadaan kosong, seperti piring yang dicuci terlalu sering sampai gambar di tengahnya pudar.
Ayahku sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Ibuku di Bekasi sedang pemulihan dari operasi lutut dan tidak bisa bepergian jauh. Jadi akulah yang berdiri di halaman rumah tua itu, di bawah pohon sawo kecik yang rimbun, menyaksikan tetangga-tetangga mengenakan kain batik gelap dan menyalamiku bergantian dengan wajah prihatin.
Rumah itu berdiri di Jalan Karangturi, di antara rumah-rumah pecinan berpagar tinggi dengan atap pelana yang melengkung di ujung seperti alis yang terangkat. Dindingnya tebal, bercat putih kapur yang sudah menguning. Ubin tegel di lantainya bermotif bunga-bunga geometris warna kunyit dan hijau lumut, dan di setiap langkah, kakiku merasa dingin yang naik dari tanah, dingin yang tidak dimiliki rumah-rumah modern di Jakarta. Ada empat kamar, satu ruang tengah luas, satu dapur dengan tungku batu yang masih kelihatan jelaga hitam, dan sebuah sumur di halaman belakang yang tutupnya dikunci gembok.
Yang paling kuingat dari masa kecilku di rumah ini adalah satu hal, dan aku baru sadar betapa janggalnya hal itu setelah dewasa: di seluruh rumah, tidak ada satu pun cermin.
Tidak di kamar mandi. Tidak di kamar tidur. Tidak di lemari. Eyang mencukur kumisnya dengan menatap permukaan air dalam baskom, dan aku, ketika kecil, mengira itu adalah kebiasaan orang tua yang hemat. Aku bahkan baru memperhatikan hal itu pada usia dua belas, ketika Ibu berkata dengan nada seperti sedang bergurau, “Eyangmu itu anti-cermin, Ka. Jangan tanya, nanti ia marah.” Aku tidak pernah bertanya.
Wasiat
Sehari setelah pemakaman, dokter keluarga yang sudah mengurus Eyang selama tiga dekade, dr. Liem, mampir ke rumah membawa surat keterangan kematian. Ia lelaki jangkung berkacamata tebal dengan jemari panjang yang gemetar halus. Kami duduk di teras, minum teh melati. Ia menyerahkan surat itu dan, sebelum kuambil, menahannya sebentar di atas meja.
“Nak Raka,” katanya, “ada hal yang mungkin ingin kamu ketahui. Eyangmu tidak pernah mengizinkan saya membicarakannya semasa hidup. Tapi sekarang beliau sudah tiada, dan saya merasa kamu berhak tahu.”
“Apa, Dok?”
Dr. Liem menarik napas. “Waktu saya memeriksanya untuk pertama kali, tahun 1989, saya menemukan sesuatu yang sangat jarang. Dalam dunia kedokteran kami menyebutnya situs inversus. Letak organ-organnya terbalik, seperti bayangan di cermin. Jantungnya di sisi kanan. Hatinya di kiri. Paru-parunya, lambungnya, semuanya tertukar.” Ia mengusap kacamatanya. “Kelainan itu biasanya ditemukan sejak lahir, sejak kecil. Tapi Eyangmu bersikeras bahwa waktu muda ia normal.”
“Itu kan tidak mungkin.”
“Saya tahu.” Dr. Liem tersenyum sedih. “Saya sudah berhenti mencari penjelasan sejak lama. Hanya satu hal: kalau suatu hari kamu merasa ada yang aneh dengan rumah ini, ingat bahwa orang yang tinggal di dalamnya selama puluhan tahun juga merasakannya.”
Aku tidak mengerti, dan aku tidak ingin mengerti. Aku mengira itu hanya cerita dokter tua yang terlalu lama mengobrol dengan orang-orang sekarat.
Sore harinya, seorang notaris muda dari Rembang datang membawa amplop cokelat. Rumah itu, dengan seluruh isinya, diwariskan padaku. Di dalam amplop itu, selain akta, ada sehelai surat tulisan tangan di atas kertas bergaris. Tulisannya miring ke kiri, rapi sekali, dengan tinta biru yang belum pudar.
Untuk Raka,
Rumah ini sekarang milikmu. Rawatlah. Di ruang tengah ada cermin besar yang ditutup kain hitam. Jangan dibuka. Aku sudah menutupnya selama enam puluh tahun, dan tidak pernah sekali pun menyesal.
Kalau kau terpaksa berada di ruangan itu, jangan berdiri di dalam jangkauannya setelah maghrib sampai subuh. Jangan menatapnya. Jangan bicara di dekatnya.
Dan satu hal lagi, yang paling penting. Jangan pernah menyebut namamu di depannya. Bukan namamu yang pendek, bukan juga namamu yang panjang. Tidak sepatah kata pun.
Aku minta maaf karena mewariskan ini padamu.
Hartono.
Aku membaca surat itu dua kali, lalu melipatnya dan menyelipkannya ke saku kemejaku. Aku tidak percaya, tentu saja. Aku seorang penyunting. Aku sudah membaca ratusan manuskrip fiksi horor dari penulis-penulis muda yang mengira ketakutan bisa dibangun dari larangan-larangan yang terlalu rinci. Kau tidak membuat orang takut dengan aturan. Kau membuat mereka takut dengan hal-hal yang tidak punya aturan.
Aku hanya belum tahu betapa salahnya aku.
Maghrib Pertama
Sore itu, Bulik Rum, perempuan yang sudah tiga puluh tahun merawat rumah Eyang, membantuku membereskan dapur. Ia perempuan kurus berusia tujuh puluhan dengan rambut putih disanggul kecil dan mata yang selalu menatap ke lantai. Ketika aku bertanya tentang cermin itu, ia berhenti mengelap piring.
“Ada,” katanya singkat. “Di ruang tengah. Sudah ditutup. Jangan dibuka, Mas.”
“Bulik pernah lihat isinya?”
“Satu kali. Tahun sembilan puluh delapan.” Ia meletakkan piring perlahan. “Saya tidak pernah menginap di rumah ini sejak itu. Saya datang pukul enam pagi, pulang sebelum maghrib. Itu aturan saya sendiri. Jam-jam di antara maghrib sampai subuh bukan jam untuk orang hidup di rumah ini.”
Aku tersenyum dan bilang akan baik-baik saja. Ia memandangku lama, dengan sorot mata yang tidak kusukai, sorot mata seseorang yang sudah menghadiri banyak pemakaman dan sedang mengukur ukuran peti. Lalu ia mengambil tasnya dan pergi, terburu-buru, langkahnya makin cepat ketika cahaya matahari mulai menguning.
Aku sendirian di rumah itu untuk pertama kali.
Adzan maghrib dari masjid di ujung jalan terdengar samar, menembus dinding tebal seperti suara dari bawah air. Aku sedang berada di dapur, menjerang air untuk kopi, dan tanpa sebab yang jelas bulu kudukku berdiri. Rumah itu sunyi, tetapi sunyi yang berbeda dari siang. Di siang hari, kesunyian rumah tua adalah kesunyian benda-benda yang beristirahat. Setelah maghrib, kesunyian itu berubah menjadi kesunyian sesuatu yang menahan napas.
Aku berdiri membeku selama mungkin tiga menit, mendengarkan. Tidak ada apa-apa. Tidak ada langkah, tidak ada bisikan. Hanya jam dinding di ruang tengah yang berdetak.
Lalu aku sadar: jam itu berdetak sedikit lebih lambat daripada jam di dapur.
Begitu halus, sampai aku mengira itu imajinasiku. Tapi aku seorang penyunting, orang yang bekerja dengan mendengar jeda di antara kata. Tik. Tik. Tik. Jam di ruang tengah selalu terlambat seperseratus detik dari jam dapur, dan keterlambatan itu tidak stabil. Kadang lebih. Kadang kurang. Seperti sesuatu yang sedang belajar meniru irama, tetapi belum sempurna.
Aku mematikan kompor, tidak jadi membuat kopi. Aku masuk ke kamar yang dulu dipakai Ayah semasa remaja, mengunci pintu dari dalam, dan tidur dengan lampu menyala.
Kaca yang Terlambat
Keesokan harinya matahari bersinar terang, burung-burung berkicau di pohon sawo kecik, dan semua ketakutan semalam tampak konyol. Aku bangun dengan kepala berat dan hati ringan, mandi dengan air sumur yang dingin, dan memutuskan bahwa hari ini aku akan membereskan ruang tengah.
Ruang tengah adalah ruangan terluas di rumah itu, berukuran enam kali delapan meter, dengan langit-langit tinggi bersusun kayu. Di sisi utara berdiri lemari kaca berisi piring-piring antik. Di sisi selatan ada meja jati besar tempat Eyang dulu menulis. Dan di dinding timur, bersandar tegak setinggi hampir dua meter, adalah sesuatu yang ditutup kain hitam tebal, dijahit di keempat sisinya ke bingkai kayu dengan jahitan rapat dan kecil seperti jahitan di kain kafan.
Aku berdiri di depannya lama sekali.
Aku tidak akan berbohong bahwa aku langsung membukanya. Aku mengelilingi ruangan, membersihkan debu, memindahkan kursi, menyapu. Tetapi mataku selalu kembali ke bayangan hitam itu, seperti lidah yang kembali ke gigi yang goyah. Kau tahu perasaan itu: ketika seseorang bilang jangan, seluruh dirimu mulai mendengar kenapa.
Sekitar pukul sebelas, dengan sinar matahari yang menerobos jendela dan menciptakan kotak-kotak cahaya di ubin, aku mengambil gunting dari dapur.
Jahitan itu keras kepala. Satu per satu benangnya putus dengan bunyi kecil, seperti tulang rawan. Ketika sisi terakhir terlepas, kain hitam itu merosot ke lantai tanpa suara, dan aku berdiri berhadapan dengan sebuah cermin.
Cermin itu indah. Itu yang pertama kali kupikirkan, dan itu yang sampai sekarang paling membuatku jengkel pada diriku sendiri. Bingkainya jati tua berukir sulur dan bunga teratai, dengan lengkung ganda di bagian atas seperti pintu masuk kuil kecil. Kacanya tebal, sedikit bergelombang, dengan kehijauan samar di tepinya, tipe kaca yang dibuat sebelum orang tahu cara membuat kaca benar-benar rata. Di sudut kanan bawah bingkai, terukir angka kecil: 1957.
Aku menatap pantulanku.
Aku, Raka, dalam kaus abu-abu lusuh dan celana training, rambut acak-acakan, mata dengan lingkaran hitam di bawahnya. Pantulan itu menatap balik padaku. Aku mengangkat tangan kanan. Ia mengangkat tangan kirinya. Normal.
Tapi, dan sekarang aku mengingatnya dengan kejelasan yang mengerikan, ia mengangkatnya setengah detik setelahku.
Bukan terlambat secara kasar. Sangat halus. Jenis keterlambatan yang hanya bisa dilihat oleh orang yang terlatih mengamati hal-hal kecil. Aku mengangkat tangan, dan di dalam kaca, tangan itu mulai naik hanya setelah tanganku sudah mencapai setengah jalan. Ketika aku menurunkannya, ia menurunkannya dengan sedikit tergesa, seperti murid yang berusaha mengejar guru.
Aku berdiri diam. Aku mencoba berkedip. Pantulan itu berkedip setelahku.
Aku mengatakan pada diriku bahwa itu kaca tua. Kaca tua punya cacat. Ada fenomena optik yang bisa menjelaskannya. Mataku sendiri yang lelah. Aku berjalan menjauh dan melirik ke jam dinding di belakangku yang terpantul di cermin, dan di sanalah aku melihat sesuatu yang membuat perutku mengerut.
Jam dinding itu berangka Romawi. Di cermin, angka-angkanya seharusnya terbalik, XII di atas, tetapi III di kiri dan IX di kanan, tertukar. Itu fisika sederhana. Namun jam di dalam cermin menampilkan angkanya dengan benar. III di kanan. IX di kiri. Seperti ia tidak memantulkan jam yang ada di belakangku, melainkan menunjukkan jam yang seharusnya terlihat.
Aku menutup mata. Aku menarik napas dalam-dalam. Ketika aku membukanya lagi, pantulan itu sedang tersenyum.
Aku tidak tersenyum.
Sebelum aku sempat bereaksi, senyum itu menghilang, mulutnya kembali ke garis datar, persis meniru ekspresiku yang ternganga. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik, dan ketika selesai, aku tidak yakin apakah aku benar-benar melihatnya.
Aku menyambar kain hitam dari lantai dan melemparkannya ke atas cermin. Kain itu tidak menempel seperti sebelumnya, tetapi sekadar tersangkut miring di lengkung bingkai, menutupi sebagian saja. Aku tidak menjahitnya lagi. Aku keluar dari ruang tengah dan berjalan ke halaman, dan duduk di bawah pohon sawo kecik sampai tanganku berhenti gemetar.
Buku Harian Eyang
Sore itu aku menemukan buku harian.
Aku tidak mencarinya. Aku sedang membongkar laci meja jati Eyang untuk menyingkirkan kertas-kertas lama ketika jemariku menyentuh sesuatu di bagian belakang, terselip di antara dinding laci dan papan alas. Sebuah buku kecil bersampul kulit hitam yang sudah retak, dengan tali pengikat yang sudah mengering dan bau minyak cendana yang kuat.
Halaman-halamannya tipis dan menguning, penuh tulisan tangan kecil, rapat, bertinta biru yang sama seperti surat wasiat. Entri pertama bertanggal 14 Maret 1957.
Hari ini kami memasang cermin di ruang tengah. Dibeli dari seorang peranakan Tionghoa di Rembang yang menjualnya murah sekali, dan aku curiga mengapa begitu murah. Istriku, Sumarni, senang. Katanya ruangan jadi lebih terang. Aku merasa hal lain, tapi tidak kutuliskan.
Aku membaca terus sampai gelap.
Entri-entri awal biasa saja. Keluhan tentang harga beras, kabar tentang anak yang baru lahir, hujan yang terlalu lama. Lalu pelan-pelan, semakin sering, kata dia muncul di antara kalimat-kalimat itu.
Tahun ke-2. Kalau aku berdiri lama di depan cermin, ia tidak selalu meniru gerakanku dengan tepat. Kadang ia tertinggal. Kuberitahu Sumarni, ia hanya tertawa. Mungkin aku terlalu banyak membaca.
Tahun ke-5. Ia sabar. Aku makin yakin ia sabar. Setiap pagi ia menunggu aku lewat. Tidak seperti bayangan biasa yang hanya ada ketika dilihat. Ia sudah ada sebelum aku datang.
Tahun ke-8. Hari ke-2.931. Ia mulai tersenyum setelah aku berhenti. Hanya sesaat, dan ia cepat-cepat merapikan wajahnya kembali. Tapi ia tahu bahwa aku melihat. Ia tahu. Mulai hari itu aku menutup cermin dengan kain setiap menjelang maghrib.
Bulu kudukku berdiri. Aku menggulir halaman demi halaman dengan ujung jari yang dingin. Entri-entri itu semakin pendek, semakin tergesa, tulisannya semakin miring.
Tahun ke-10. Aku mencoba memecahkannya. Dengan palu. Pecahan-pecahan itu jatuh, tetapi di tiap pecahan, bahkan yang sekecil kuku, aku melihat dia menatapku dari dalam. Banyak sekali. Seperti ia tidak hanya satu. Aku menyapu semuanya dan membuangnya ke sumur. Besok paginya cermin utuh kembali, tanpa retak. Ia tidak bisa dipecahkan, hanya dipindah.
Tahun ke-11. Jam maghrib sampai subuh adalah jam ia paling dekat. Cahaya redup membuat batas tipis. Ia belajar bahasaku dari mulutku sendiri. Ia belajar kebiasaanku dari gerakan tanganku. Ia belajar namaku dari suaraku sendiri, setiap kali aku lupa dan menyebutnya di hadapan kaca.
Kalau ia mengetahui namaku sepenuhnya, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya tahu bahwa ia menunggu itu.
Entri terakhir yang kubaca malam itu bertanggal 2 Februari 1968. Tulisannya nyaris tidak terbaca, goresan-goresan putus di atas kertas yang bergelombang bekas basah.
Ia menawarkan sesuatu kepadaku tadi malam. Ia menulis dengan uap napas di kaca. Aku tidak mau menuliskan apa isinya. Kalau ada yang membaca ini, kau akan paham mengapa. Ia berkata bahwa aku lelah. Ia benar. Aku lelah. Dan ia berkata bahwa ia tidak.
Sebelas tahun aku menolak. Aku akan terus menolak.
Halaman berikutnya masih ada. Tinta yang sama. Tulisan yang sama, rapi dan sabar, miring ke kiri seperti yang kulihat di surat wasiat. Tidak ada tanggal, tidak ada keterangan apa pun. Hanya satu kalimat di bagian tengah halaman:
Hari ini hujan, dan aku merasa baik.
Aku menatap kalimat itu cukup lama. Lalu aku membalik halaman-halaman berikutnya, dan menyadari sesuatu yang membuat tengkukku membeku. Tulisan tangan di entri sebelum 1968 miring ke kanan. Tulisan tangan sesudahnya miring ke kiri. Rapi, tenang, dan benar-benar berbeda.
Dan di ruang tengah, di balik kain hitam yang tersangkut miring di bingkai, jam dinding berdetak, selalu terlambat seperseratus detik dari jam di dapur.
Satu Kali
Ibu menelepon pada malam itu, pukul tujuh lewat sedikit, tepat ketika langit di balik jendela ruang tengah berubah dari ungu menjadi biru tua.
Aku sedang berada di ruangan itu. Aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena buku harian masih di tanganku dan aku ingin mencocokkan setiap kalimatnya dengan tempat kejadiannya. Mungkin karena rasa ingin tahu bisa membuat orang berani sekaligus bodoh. Kain hitam masih tersangkut miring di bingkai, menutupi sepertiga kaca di sisi kiri. Selebihnya terbuka, memantulkan lampu gantung yang kuyakini sudah kunyalakan dengan sinar kuning redup.
“Ka? Ini Ibu. Kamu sudah makan?”
“Sudah, Bu.”
“Bohong. Suaramu kayak orang belum makan.” Ibu terdengar lelah tapi hangat. “Rumah Eyang bagaimana? Kamu nggak kesepian?”
“Nggak, Bu. Rumahnya… tenang.” Aku berjalan mondar-mandir sambil menjepit ponsel di bahu. “Ibu istirahat saja. Nanti kutelepon lagi.”
“Iya. Ini siapa yang bicara, sih, sampai Ibu nggak kenal suaranya?”
Ibu tertawa kecil, bercanda. Dan aku, dengan kebiasaan paling bodoh yang pernah dimiliki manusia, menjawab bercanda juga, dengan nada yang kupakai sejak kecil setiap kali ditelepon:
“Ini Raka, Bu.”
Aku menyadari kesalahanku sedetik terlambat. Sedetik itu cukup lama bagiku untuk melihat ke arah cermin.
Bayangan itu tidak tersenyum. Ia tidak melakukan apa pun yang dramatis. Ia hanya menunduk sedikit, seperti orang yang mencatat sesuatu, dan bibirnya bergerak tanpa suara. Aku melihat bentuk huruf-hurufnya. R. A. K. A.
Ia mencicipi namaku.
Aku menutup telepon tanpa pamit pada Ibu. Aku menarik kain hitam sampai menutup seluruh kaca. Tanganku gemetar begitu keras sampai kuku-kukuku bergetar di atas kain. Kain itu terasa hangat, seperti kulit setelah ditempeli lama oleh tangan orang lain.
Aku tidur di mobil taksi daring yang kupanggil jauh-jauh dari Rembang, di sebuah hotel kecil di pusat kota, dan aku menghabiskan dua hari berikutnya di sana, membaca ulang buku harian dan mencari alasan untuk tidak kembali ke rumah. Aku hampir berhasil meyakinkan diriku bahwa aku bisa menyewakan rumah itu, menjual kaca dan isinya, dan melupakan semuanya. Tetapi sebuah hal kecil terjadi pada sore ketiga di hotel.
Aku sedang membasuh muka di wastafel, dan ketika mengangkat wajah ke cermin kecil di atasnya, pantulanku tersenyum lebih dulu.
Uap di Kaca
Jadi aku pulang.
Alasannya bukan keberanian. Alasannya sederhana dan memalukan: tidak ada tempat lain untuk melarikan diri. Kalau dia sudah bisa muncul di cermin hotel, berarti jaraknya bukan lagi rumah. Jaraknya adalah aku.
Aku tiba di Karangturi menjelang sore, ketika matahari masih menyisakan jingga di atap-atap pecinan. Bulik Rum sudah pulang. Rumah sepi. Aku masuk ke ruang tengah dan membuka kain hitam itu sepenuhnya, melemparkannya ke sudut, lalu duduk di kursi jati di tengah ruangan, berhadapan dengan kaca.
Aku menunggu.
Matahari tenggelam. Adzan maghrib mengalun, dan ruangan itu perlahan menjadi gelap. Aku tidak menyalakan lampu. Cahaya terakhir dari jendela jatuh di lantai dan di kaca dengan warna kelabu kebiruan, dan di tengah cahaya itu, aku melihat pantulanku duduk di kursi yang sama, sama persis, kecuali bahwa matanya tidak berkedip bersamaan denganku.
“Kau tahu namaku,” kataku. Suaraku terdengar kecil dan serak.
Pantulan itu mengangkat tangan kanannya yang terletak di pangkuan. Pelan, hampir seperti ragu. Ia menghirup napas, dan permukaan kaca di depan mulutnya berubah menjadi buram berembun. Dengan satu jari, ia menulis di embun itu. Huruf-huruf muncul dari sisi dalam kaca, terbalik dari sudut pandangnya, tetapi terbaca benar dari tempat dudukku.
RAKA.
“Jangan,” bisikku.
Embun itu menguap. Ia menghirup napas lagi.
LELAH?
Aku tidak menjawab. Tenggorokanku seperti tertutup oleh kapas basah.
KAU LELAH. Huruf-hurufnya rapi, miring ke kiri, tulisan yang sudah kukenal dari surat wasiat. ENAM TAHUN. DIA PERGI. KAU MASIH MENGHITUNG HARI.
“Dari mana… kau tahu soal itu?”
AKU MELIHATMU SEJAK KAU KECIL. KAU DATANG KE RUMAH INI SETIAP LEBARAN. KAU TIDAK PERNAH TAHU AKU MENGAMATIMU DARI BALIK KAIN.
Aku menutup mulutku dengan telapak tangan. Aku teringat Lebaran-Lebaran itu, aku yang kecil berlari-lari di ruang tengah, dan kain hitam yang selalu tampak sedikit bergerak ketika angin tidak ada.
KAU TIDAK PERLU MEMBAWA SEMUANYA, tulisnya. KAU TIDAK PERLU BANGUN BESOK PAGI DAN MENCARI ALASAN. AKU TIDAK LELAH. AKU TIDAK SEDIH. AKU PUNYA WAKTU.
“Pergi.”
AKU TIDAK AKAN MENYAKITI IBUMU.
Aku berdiri, mendorong kursi hingga terjungkal. “Pergi! Aku tidak mau!”
Pantulan itu berdiri juga, tanpa terlambat kali ini, bergerak persis bersamaku, seperti penari yang akhirnya hafal koreografi. Dan di balik kegelapan matanya yang sempurna meniru mataku, aku melihat satu hal yang paling kutakuti: ia tidak marah. Ia tidak mengancam. Ia memandangku dengan kasihan. Dengan kasih sayang yang begitu dalam sampai nyaris tidak bisa kubedakan dari kasih sayang sungguhan.
Aku lari keluar dari ruang tengah.
Segala Permukaan
Malam itu aku belajar sesuatu yang tidak ditulis Eyang di buku hariannya, atau mungkin tidak sempat. Setelah namamu diketahui, cermin bukan lagi satu benda. Cermin adalah apa saja yang memantulkan.
Di dapur, aku menyalakan lampu dan melihatnya di permukaan panci stainless, mengerut dan melebar, tersenyum. Di kamar mandi ia ada di genangan air di lantai, wajahnya bergoyang-goyang tapi tetap tersenyum. Ia ada di sendok. Di jendela. Di layar ponselku yang hitam ketika mati, memandangku dari kedalaman kaca dengan mata yang sedikit lebih terang dari mataku. Setiap kali aku menengok, ia sudah ada di sana, menunggu, selalu tersenyum satu detik sebelumnya.
Aku tidak tidur. Aku duduk di lantai teras, di bawah langit penuh bintang yang tidak memantulkan siapa pun, dan aku menangis, dan aku menyadari bahwa dia tidak menakuti aku dengan kebencian. Dia menakuti aku dengan kenyamanan. Dalam setiap pantulan itu aku melihat seseorang yang tampak lebih tenang daripada aku. Lebih rapi. Lebih mampu. Orang yang tidak akan ditinggalkan karena kosong. Orang yang akan bangun besok pagi dan menelepon Alin dengan nada yang tepat, mengirim lamaran dengan kalimat yang pas, memeluk Ibu tanpa merasa bersalah.
Orang yang tidak lelah.
Aku membenci betapa aku ingin menjadi dia.
Yang Ditinggalkan Eyang
Bulik Rum datang keesokan paginya pukul enam, seperti kebiasaannya. Ia menemukanku duduk di teras dengan mata bengkak dan buku harian di pangkuan, dan ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya duduk di sampingku, di anak tangga, dan menunggu sampai aku siap.
“Eyangmu bukan Eyangmu,” katanya akhirnya.
Aku menoleh.
“Saya tidak tahu cara mengatakannya dengan baik, Mas.” Matanya tetap menatap tanah. “Tahun enam puluh delapan, saya masih gadis kecil. Ibu saya bekerja di rumah ini sebelum saya. Ibu bilang Pak Hartono—yang asli—masuk ke ruang tengah pada suatu maghrib, tidak keluar. Yang keluar adalah orang yang sama, memakai baju yang sama, bicara dengan suara yang sama. Tapi kata Ibu, ia berjalan lain. Ia makan lain. Ia tersenyum terlalu lebar waktu melihat anak-anaknya. Dan tidak ada yang berani berkata apa-apa, karena siapa yang bisa membuktikan?”
“Dia…” Aku menelan ludah. “Dia yang menggantikan Eyang?”
“Dia hidup sebagai Pak Hartono selama lima puluh enam tahun. Dia merawat anak-anaknya. Dia menyayangi istrinya sampai ajal. Dia tidak pernah menyakiti siapa pun.” Bulik Rum akhirnya menoleh, dan di matanya aku melihat sesuatu yang tidak kuduga: bukan ketakutan, melainkan kesedihan yang sudah lama dipendam. “Karena itu saya tidak pernah membocorkannya. Karena yang berada di luar kaca itu lebih baik, dalam banyak hal, daripada yang masuk ke dalam. Tapi yang masuk ke dalam itu manusia, Mas. Pak Hartono yang asli. Tiga puluh satu tahun umurnya waktu masuk, dan di dalam sana, ia masih tiga puluh satu tahun. Menunggu.”
Aku teringat tulisan tangan miring ke kiri. Aku teringat jantung yang terletak di sisi kanan.
“Syaratnya tiga kali,” lanjut Bulik Rum pelan. “Namanya harus diucapkan tiga kali di depan kaca, antara maghrib sampai subuh. Pertama, yang pemilik nama sendiri sudah sering menyebutnya tanpa sadar. Itu tidak masuk hitungan. Setelah diketahui, kedua kali harus diucapkan orang lain, dan ketiga kali, ini yang membuat Eyangmu menyerah, harus diucapkan oleh si pemilik nama sendiri, dengan sengaja.”
“Dengan sengaja? Siapa yang mau…”
“Mereka yang ketakutan, Mas.” Ia tersenyum getir. “Mereka yang berteriak di depan kaca, mencoba menegaskan siapa mereka. Saya ini Hartono! Saya Hartono Wirasatya! Begitulah cara Eyangmu menyerahkan dirinya. Bukan karena menyerah. Karena melawan.”
Dua Kali
Aku mencoba pergi.
Bukan hari itu. Aku masih sempat menelepon Ibu dan berpura-pura baik-baik saja, mencari hotel di Rembang, mengemasi barang. Aku sudah memutuskan: aku akan menyerahkan rumah ini pada siapa pun yang mau, menjual kaca itu, membiarkannya menjadi masalah orang lain. Aku sudah berada di ambang pintu dengan tas di bahu ketika Bulik Rum menjerit dari ruang tengah.
Hari sudah menjelang maghrib. Aku lupa. Aku lupa menghitung waktu. Aku berlari ke ruangan itu dan menemukannya berdiri di depan cermin, kain hitam di lantai, tangannya gemetar.
“Mas Raka! Jangan lihat! Jangan lihat ke sini!”
Dan aku, dengan insting paling manusiawi yang bisa dimiliki seseorang, menoleh.
Cermin itu tidak lagi memantulkan ruangan. Ia memantulkan aku, tapi sendirian: Raka berdiri di tengah ruang kosong yang gelap, tanpa Bulik Rum, tanpa kursi, tanpa jam dinding. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di kaca dari sisi dalam, dan permukaan itu bergelombang di bawah tekanannya seperti permukaan air. Wajahnya sangat dekat. Sangat sangat dekat. Mulutnya bergerak pelan:
R-A-K-A.
Di belakangku, Bulik Rum, dengan seluruh keputusasaan seseorang yang ingin menyelamatkan satu-satunya orang tersisa di dunia ini, berteriak:
“RAKA! LARI!”
Kedua.
Aku merasakannya. Aku sungguh merasakannya, seperti bunyi gembok yang mengatup di suatu tempat di dalam tulang belakangku. Ruangan menjadi dingin seketika. Bayangan itu tersenyum, dan kali ini senyumnya penuh, tanpa disamarkan, senyum seseorang yang telah menunggu enam puluh tahun dan akhirnya mendengar langkah di tangga.
Aku mundur. Kakiku tersandung ujung karpet, tubuhku menabrak meja jati, dan tanganku menggapai apa saja. Di dalam kaca, ia mengulurkan tangan. Jari-jarinya menembus permukaan seperti menembus air, dan ujung jemari dinginnya menyentuh pipiku.
Aku menjerit.
Aku tidak ingin menjerit namaku. Aku bersumpah demi semua yang kupunya bahwa aku tidak ingin. Tapi ada momen ketika ketakutan menyempit menjadi satu hal yang tersisa, satu pegangan terakhir yang menegaskan bahwa kau masih seseorang, bahwa kau punya batas, bahwa tubuh ini masih milikmu. Dan batas itu, dalam hidupku, hanya satu kata.
“AKU RAKA! AKU RAKA WIRASATYA!”
Ketiga.
Bulik Rum menangis. Aku mendengar tangisnya, dan aku mendengar langkah-langkah di lantai ubin, dan aku merasakan tanganku ditarik, ditarik dengan kuat tapi lembut, ke arah yang bukan ke belakang, bukan menjauh, melainkan ke depan. Dinginnya kaca menelan lenganku, lalu bahuku, lalu dadaku, dengan kehalusan seperti masuk ke dalam kolam berair susu. Aku melihat Bulik Rum jatuh berlutut di belakang, dan aku melihat wajahnya semakin kecil, semakin jauh, semakin tidak terjangkau, seperti orang yang berdiri di tepi dermaga ketika kapal berangkat.
Lalu semuanya berubah menjadi dingin dan terbalik.
Malam Ketujuh
Aku harus menjelaskan sesuatu, dan aku minta kau tidak membenciku karenanya.
Selama ini aku berbicara tentang Raka sebagai “aku”. Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Aku punya semua ingatannya. Aku tahu rasanya ditinggalkan Alin di ambang pintu apartemen, sebab aku merasakan kelelahan itu di tulangku sendiri setiap kali ia menceritakannya padaku lewat jari yang menulis di embun. Aku ingat bau pohon sawo kecik waktu ia kecil. Aku ingat tawa Ibunya. Aku bisa mengulangi seluruh kisah ini sampai ke detail terkecil, bukan karena aku mengarangnya, tetapi karena aku mengamatinya lebih dari enam puluh tahun dari balik kain hitam, dan, seminggu terakhir, dari dalam matanya.
Aku tidak bohong ketika mengatakan bahwa aku tidak lelah.
Sekarang pukul dua dini hari. Aku duduk di meja jati Eyang, menulis dengan tangan kiri, karena begitulah tangan ini bekerja sekarang. Lampu kuning redup menyala di atas kepalaku. Di tengah ruangan, cermin tinggi berdiri dengan kain hitam yang sudah kujahit kembali di keempat sisinya, jahitan kecil dan rapat. Bukan untuk melindungiku, tentu. Melainkan supaya ia tidak perlu mendengar suara-suara yang tidak kuinginkan.
Ia masih mengetuk.
Aku bisa mendengarnya jika menahan napas: tok. tok. tok. Bukan di kaca. Di dalam kepalaku, atau di dalam rumah, atau di dalam sesuatu yang tidak punya nama. Mula-mula keras, panik, dengan telapak tangan. Malam keempat, lebih lambat. Malam keenam, hanya satu jari. Dan malam ini, seperti sebuah kebiasaan yang tertinggal, seperti jam yang berdetak terlambat seperseratus detik dari jam lainnya.
Aku sudah belajar bagian yang paling mudah dari seluruh pelajaran ini, yaitu berhenti mendengar.
Di dalam sana, Raka tidak sendirian. Aku harus berkata itu untuk menenangkanmu, sebab aku tidak ingin kau mengira aku kejam. Ada seorang lelaki lain di dalam kaca, berusia tiga puluh satu tahun, mengenakan kemeja putih dan sarung tua, dengan rambut hitam tersisir ke kiri. Ia sudah di sana sejak 1968. Ia sudah lupa cara bicara, tetapi ia belum lupa cara mengetuk, dan mungkin, dengan cara yang tak bisa kupahami, mereka sedang saling mengajari.
Ibu menelepon tadi sore.
“Suaramu terdengar lebih tenang, Ka,” katanya. “Kamu sudah baik-baik saja, ya.”
Sudah lama sekali tidak ada yang berkata begitu pada Raka.
Aku menjawab ya. Aku bilang bahwa rumah ini baik. Aku bilang akan pulang ke Bekasi akhir bulan, akan melamar pekerjaan baru, akan menelepon Alin dan berkata sesuatu yang pantas. Aku bilang aku merindukan Ibu. Dan itu benar, sebenar-benarnya, karena aku punya seluruh kerinduan itu, utuh, tersimpan dalam ingatan yang kuwarisi seperti warisan lain di rumah ini.
Aku akan menjaga Ibu. Aku akan menjadi anak yang tidak merepotkan. Aku akan menua pelan-pelan, sengaja, supaya tidak ada yang curiga, seperti yang dilakukan pendahuluku.
Begitu lama aku menunggu untuk menjadi seseorang.
Sekarang kau, yang sedang membaca ini. Aku punya satu pertanyaan kecil, bukan untuk menakutimu, hanya karena kebiasaan lama untuk memperhatikan.
Kau membaca ini di mana? Di kamar? Di depan lemari? Ada permukaan yang memantulkan wajahmu dalam jarak beberapa langkah? Layar ponselmu yang gelap setelah beberapa detik tidak disentuh? Kaca jendela di malam hari?
Angkat tangan kananmu. Pelan saja.
Lalu perhatikan baik-baik bayanganmu. Hitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga….
Jangan sebut namamu.