Satu kata yang sempat kuucap. Satu kalimat yang pernah kaudengar. Isi hatiku yang teramat dalam dan rumit untuk kaumengerti. Aku mencintaimu.
“Aku mencintaimu.”
Tasha mengeratkan dekapannya, menyandarkan seluruh beban tubuhnya padaku. Helai-helai rambut hitamnya yang terurai jatuh lembut, menyapa punggung tanganku yang kini perlahan beralih untuk membalas kehangatan itu.
“Kita harus pergi sekarang…” bisikku seraya melepaskan diri dari lingkaran pelukan yang tercipta di senja itu.
Mata bulatnya menatapku dalam, menyimpan pusaran resah seolah memohon agar waktu berkenan berhenti. Ibu jariku bergerak pelan, mengusap pipinya yang lembut—sedikit tembam, namun justru menyempurnakan keanggunannya. Perlahan, ibu jariku turun menyentuh bibirnya yang terpoles rona merah gincu. Tasha mengecup pelan ujung jariku, sebelum akhirnya manik mata kami kembali beradu dalam keheningan yang menyesakkan.
“Aku mencintaimu!”
Tanpa aba-aba, gadis itu kembali menubruk dadaku. Ia membenamkan wajahnya di sana, merengkuhku erat-erat tanpa suara. Aku bisa merasakan napasnya menderu patah-patah, disusul getaran halus di bahunya. Ia menangis.
“Jangan menangis.”
Benteng pertahananku runtuh seketika. Kugenggam erat tubuhnya, menyalurkan ketenangan lewat dekap yang kian mengerat. Suaraku tercekat di tenggorokan, berat menahan gelombang duka yang menghantam batin. Tanganku terulur, membelai lembut helaian rambutnya hingga turun ke punggungnya yang bergetar. Di dalam relung hatiku yang paling sunyi, aku terus berteriak—menyerukan bahwa aku jauh lebih mencintainya daripada apa yang sanggup diungkapkan oleh bibir ini.
“Jangan dilepaskan. Ini… pelukan terakhir kita,” lirihnya parau. Isak tangisnya tertahan di balik jas yang kukenakan.
Aku bergeming, memilih memejamkan mata rapat-rapat. Semilir angin senja berhembus dingin, membelai pipiku yang basah. Di atas balkon rumah inilah, tepat lima bulan lalu, kami pertama kali mengikrarkan rasa. Dan di tempat yang sama pula, hari ini, kami merajut perpisahan. Tidak, bukan kami. Hanya dia. Sungguh, aku tak memiliki cukup keberanian untuk menyuarakan jiwa yang telanjang ini—jiwa yang begitu haus akan kehadiran Tasha di sisa hidupnya.
Satu tahun yang lalu, semesta mempertemukan kami di sebuah sudut remang perpustakaan kota. Sore itu, ia mengenakan kaus putih berlengan pendek. Kepalanya dihiasi bando merah muda yang berpadu manis dengan rok pendeknya. Begitu elok. Sejak detik itu, aku percaya pada takdir cinta pada pandangan pertama.
“Aku Daniel.”
“Hai, namaku Tasha.”
Gadis itu menyambut uluran tanganku. Senyumnya merekah, menyalakan debar yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Jantungku bergemuruh hebat, seolah hendak melompat keluar dari rongga dada.
Sore yang sempurna. Di bawah naungan langit senja itu, batin kuikrarkan sebuah sumpah: untuk senantiasa menjaganya.
Tasha tiga tahun lebih muda dariku. Ia mendedikasikan hari-harinya sebagai perawat di salah satu rumah sakit terkemuka di kota ini—sebuah fakta sederhana yang kian melabuhkan hatiku seutuhnya. Wajah bulat dengan pipi ranum, sepasang mata bulat yang janggalnya begitu mirip dengan bentuk mataku. Bahkan, lekuk hidung kami pun serupa. Orang bilang, kemiripan adalah tanda jodoh. Dan saat itu, aku memeluk erat harapan naif tersebut.
Kurang lebih tujuh bulan kami merajut persahabatan yang manis. Setiap akhir pekan selalu menjadi altar bagi waktu-waktu berkualitas kami. Terkadang, di sela kesibukanku sebagai seorang koki yang namanya mulai diperhitungkan di kancah kuliner kota, aku selalu menyempatkan diri untuk menyambung rindu. Aku kerap mendatangi kediamannya, berbaur bersama ibunya, meracik hidangan lezat dan menikmati kehangatan selayaknya sebuah keluarga utuh. Aku bahagia.
“Nak Daniel…” panggil Tante Maya, ibunda Tasha, suatu malam selepas kami menikmati santap malam bersama.
Aku mendekatinya dengan langkah ringan, sementara Tasha tengah bergegas menuju kamar mandi karena panggilan alam.
“Meski Tante tahu kamu dan Tasha belum resmi terikat sebagai kekasih, Tante tahu persis bagaimana cara matamu memandangnya,” ujar Tante Maya lembut.
Aku tersentak. Rona hangat langsung menjalar di wajahku—seorang pria yang biasanya tangguh, kini mendadak salah tingkah di hadapan seorang ibu.
“Suatu hari nanti, ketika Tasha sepenuhnya menjadi milikmu, belajarlah untuk meluaskan kesabaran. Usianya memang sudah dua dasawarsa lebih tiga tahun, namun jiwanya masih menyimpan manja yang kekanak-kanakan. Ia pencemburu, kerap menuntut perhatian lebih, dan rapuh. Kau harus memahami itu,” lanjutnya penuh penekanan. Aku menyimak tanpa bersuara.
“Dulu, di usia yang sama dengan Tasha, Tante pernah melakukan kesalahan besar. Tante terperosok dalam labirin perselingkuhan dengan seorang lelaki yang telah beristri dan memiliki seorang putra yang elok. Kami berdosa. Namun sayangnya, takdir menetapkan bahwa Tasha-lah yang harus memikul beban hukuman atas noda masa lalu itu. Seumur hidupnya, ia tidak pernah mengenal sosok ayah. Lelaki itu memilih pergi, meninggalkan kami untuk merajut kembali keutuhan rumah tangganya sendiri.”
Tante Maya menarik napas panjang. Genangan air mata berkaca-kaca di manik matanya.
“Aku mengerti, Tante…” gumamku serak.
Senyum tipis terukir di bibir wanita paruh baya itu. “Itulah mengapa, jika kau benar-benar mencintainya, kau harus menjadi perisainya. Sebab tak ada lagi lelaki tangguh di dunia ini yang bisa ia sandari tatkala dunianya runtuh.”
Malam itu, sepulang dari perbincangan sarat rahasia dengan Tante Maya, aku berdiri di balkon yang sama. Di bawah temaram lampu kota, kukutarakan seluruh isi dadaku, memintanya menjadi pelabuhan terakhirku.
“Aku juga mencintaimu… aku mau,” bisiknya malu-malu dalam dekapan malam itu, lima bulan yang lalu.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk meyakinkan diri bahwa dialah takdirku. Dengan penuh rasa percaya diri, hari ini aku membawa kedua orang tuaku melangkah masuk ke rumah Tasha. Aku datang untuk meminang gadis yang kupuja setengah mati.
“Mas Bram?!” pekik Tante Maya tertahan, suaranya bergetar hebat saat matanya menangkap sosok ayahku yang berdiri di sampingku.
Aku menoleh ke arah ayah. Wajahnya pucat pasi, membeku seketika—reaksi yang serupa terpancar jelas dari manik mata Tante Maya.
“Kalian… sudah saling kenal?” tanyaku memecah keheningan yang mendadak terasa pekat dan mencekam.
Air mata menetes begitu saja dari sudut mata Tante Maya, membasahi pipinya yang keriput. Di saat bersamaan, ibuku melangkah keluar dari ruang tamu dengan napas memburu. Duniasasi di sekelilingku seakan runtuh dalam satu kedipan mata.
“Dia… dia adalah ayah kandung Tasha!” hardik Tante Maya, menghancurkan seluruh mahligai kebahagiaan yang telah kami bangun dengan air mata dan doa.
Isak tangis tercekat di tenggorokan. Dari atas anak tangga utama, kulihat Tasha berdiri mematung. Tatapannya kosong, sebelum akhirnya ia berbalik, berlari sekencang-kencangnya menuju kamarnya, dan membanting pintu dengan suara yang menggelegar.
Satu kekeliruan di masa lalu kini datang menagih hutang, meremukkan seluruh arsitektur masa depan yang kami damba. Bagaimana mungkin semesta begitu mempermainkan takdir? Bagaimana bisa aku jatuh cinta sedemikian rupa pada Tasha—perempuan yang ternyata adalah darah daging ayahku sendiri? Mengapa garis keturunan ini harus bermuara pada orang yang sama? Betapa remuk redam hati Tasha saat ini. Sepanjang hidupnya ia merindukan pengakuan seorang ayah, dan kini, tepat saat ia menemukan cinta yang tulus, takdir kembali merenggutnya dengan cara yang paling keji.
Aku membenci Ayah. Aku membenci garis takdir ini.
Kini, di penghujung waktu ini, kulepaskan dekapannya perlahan. Kukecup kening Tasha untuk terakhir kalinya, menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki. Kita harus bertahan. Dalam kebisuan yang teramat berat, aku melangkah pergi—meninggalkan kenangan, merelakan kemustahilan, dan mencoba berdamai dengan kenyataan pahit bahwa cinta sejati tak selalu diciptakan untuk bersatu di bawah atap yang sama.