Aku menatap mata ibu dalam-dalam, menunggu jawaban atas permintaanku. Ibu menghela napas, lalu mematikan kompor.
“Anya, Ibu kan sudah bilang. Anya harus paham, ya.”
Kecewa menyergapku. Aku bahkan tak bisa menyembunyikan wajah cemberut. Kutinggalkan dapur dan duduk di meja makan. Rasanya kosong, seperti ada awan sedih yang menggantung di dadaku.
“Kenapa, Anya?”
Om Jefri, lelaki paruh baya yang menikahi ibu lima bulan lalu, membuyarkan lamunanku.
“Anya baik-baik aja kok, Om,” jawabku datar.
Sebenarnya Om Jefri orang baik. Ia ramah dan bersikap seperti seorang ayah. Tapi tetap saja aku tak sanggup memanggilnya ayah, atau bapak, atau apa pun. Bagiku, tempat bapak di hati ini tak akan pernah tergantikan.
“Kalau ada apa-apa, bilang ya.” Ia mengelus kepalaku, lalu berjalan pelan menyusul ibu ke dapur, tempat sayur sup ayam kemarin sedang dihangatkan.
Tiba-tiba dadaku sakit. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali bapak mengelus kepalaku seperti itu.
Setelah sahur, aku kembali ke kamar dan menelungkup di atas bantal. Aku rindu bapak. Sudah dua Ramadhan kulewati tanpanya. Saat Lebaran pun kami tak bertemu. Bapak hanya sesekali menelepon ibu, lalu mengobrol sebentar denganku. Mungkin bapak sibuk, sampai lupa bahwa di sini ada anak yang merindukannya.
“Anya…”
Ibu masuk dan menemukanku menangis sesenggukan di balik selimut.
“Salat Subuh dulu, yuk, Sayang.” Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap punggungku.
“Anya kangen Bapak, Bu.”
Dulu, Bapak pergi terlalu cepat, dua tahun lalu, sebelum Ramadhan, ketika aku masih sembilan tahun. Kukira mereka hanya berpisah sebagai suami istri. Bukankah tak ada perpisahan antara ayah dan anak? Tapi kenapa rasanya sesulit ini? Sejak itu, aku tak pernah lagi bertemu Bapak.
“Sabar, Nak. Dengan sabar dan ikhlas, Anya pasti kuat menahan rindu.”
Ibu mendekapku. Aku menangis keras-keras, tak tertahankan. Samar, kulihat Om Jefri berdiri di ambang pintu, memperhatikan kami.
Puasaku hari itu tidak tamat. Sekitar pukul tiga sore tubuhku menggigil, lalu demam. Dengan terpaksa aku membatalkan puasa.
“Cepat sembuh, ya.”
Om Jefri membalik kain kompres di keningku, sehelai handuk kecil yang dingin. Aku hanya tersenyum tipis.
“Anya ingin ketemu Bapak, ya?” tanyanya, begitu pelan hingga hampir tak terdengar.
Aku kaget. Aku tak menyangka ia akan menanyakannya.
“Anya kangen Bapak?” Ia mengulang, tanpa menunggu jawaban. Aku mengangguk pelan.
“Anya sembuh dulu. Nanti kita temui Bapak.”
Aku terkesiap. “Beneran, Om?”
“Iya. Kalau Bapak tidak datang, kita yang datang. Nanti Om bilang ke Ibu. Kita pergi sama-sama. Anya mau, kan?”
Mataku basah, tapi kali ini karena bahagia. Aku bangkit dan memeluk Om Jefri untuk pertama kalinya.
“Makasih banyak, Om.”
Di depan cermin, aku mengikat cepol rambutku. Hari ini aku akan bertemu Bapak. Dua hari lalu Om Jefri dan Ibu berjanji mengajakku ke tempat Bapak.
“Anya…”
Ibu masuk saat aku memakai kerudung biru telur asin yang belum pernah kupakai, hadiah dari Om Jefri waktu pasar malam.
“Sudah siap? Ayo.”
Kami bertiga berjalan beriringan ke terminal. Ibu menggenggam tanganku erat, seperti takut aku tertinggal. Di sisi lain, Om Jefri tampak ragu setiap kali hendak meraih tanganku. Padahal aku tak akan menolak. Aku sudah berjanji dalam hati, mulai hari ini aku akan memanggilnya Ayah.
“Jangan lupa baca doa, Anya,” kata Om Jefri saat kami duduk di bus yang hampir penuh.
“Iya, Ayah.”
Ibu dan Om Jefri sama-sama tertegun. Bibir Om Jefri melengkung, tersenyum tulus. Mungkin ia bahagia. Aku hanya menduga-duga.
Aku duduk di dekat jendela. Bus melaju, dan hatiku tak karuan. Terik matahari menusuk dari balik kaca, tapi tak mampu mengusir bahagiaku. Perjalanan kami panjang. Pagi tadi Ibu bilang aku harus tegar, karena Bapak sudah menikah lagi. Sebenarnya aku tak terlalu kaget. Aku sudah menduganya. Dan aku yakin, posisiku di hati Bapak tak akan pernah tergantikan, sebagaimana Bapak tak tergantikan di hatiku, sekalipun kini ada Om Jefri yang kupanggil Ayah.
“Anya kuat kan puasanya?” tanya Ibu setelah sejam setengah perjalanan.
Tenggorokanku kering. Tapi aku tak mau puasaku bocor lagi.
“Kuat dong.” Aku mengangguk mantap.
Ibu dan Om Jefri tersenyum. Mereka pasti tahu gadis kecil sebelas tahun ini sedang berbunga-bunga.
“ALLAHU AKBAR!”
Takbir sopir terdengar bersamaan dengan benturan keras di depan sana. Kepalaku menghantam punggung kursi di depanku. Sebelum sempat bertanya pada Ibu, kursi kami terpental. Jeritan di mana-mana. Tangis anak-anak kecil. Api di sekeliling kami. Aku ikut menangis.
“Istighfar, Anya.”
Om Jefri menggenggam tanganku erat, berusaha membawaku keluar. Ibu mengikuti dari belakang. Api melingkar di sepanjang bus, membuat jeritan penumpang semakin keras. Mata Ibu basah. Beberapa bapak mencoba membuka jalan keluar sebelum api menyambar.
DUARR.
Ramadhan belum berakhir. Aku belum sempat bertemu Bapak. Tapi jika ini Ramadhan terakhirku, izinkan aku bertemu Bapak sekali lagi, ya Allah. Izinkan aku menyampaikan sayangku pada Ibu dan Ayah.
Ledakan itu menelan kami semua. Yang tersisa hanyalah sesal Bapak, yang entah sejak kapan memusatkan hidupnya pada keluarga barunya. Sekarang semuanya hilang begitu saja. Aku sudah pergi, sebelum sempat bertemu Bapak lagi.
“Bapak, Anya rindu. Tapi rindu membawa Anya pergi. Anya ingin ketemu Bapak. Selamat tinggal, Bapak.”
ditulis oleh Linda Shierly berusia tujuh belas tahun.