Garis Edar

Sebelum Orbit

Posted by Shierolive on October 21, 2026

Nama Pena: Shierolive
Catatan: Novel ini telah dipublikasikan secara lengkap di Quarterfull Apps. Silakan membaca kisah Garis Edar selengkapnya melalui tautan resmi berikut: Baca Garis Edar di Quarterfull.
Tanggal Upload: 21 Oktober 2026


Prologue

Sebelum Orbit

Ada sebuah bangku beton di tribun tua, di kota yang tidak pernah masuk peta mana pun.

Warnanya sudah nyaris hilang. Di sudut kirinya ada retakan, dan rumput liar tumbuh di celahnya. Di bawahnya terbentang lapangan kosong, dan di ujung sana, di balik pohon ketapang, sebuah kantin kecil dengan meja kayu bercat biru yang mengelupas di sudut yang sama sejak bertahun-tahun lalu.

Setiap senja, cahaya jatuh miring di bangku itu. Orang-orang yang lewat tidak pernah menoleh. Bangku itu hanya bangku.

Tetapi bangku itu menyimpan lebih banyak daripada yang pantas disimpan sebuah benda mati. Ia menyimpan tawa yang tertahan dan tangis yang dipaksa pecah. Ia menyimpan sekotak susu cokelat yang embunnya menetes sendirian, dan sekotak susu stroberi yang tak sempat disedot. Ia menyimpan dua belas tahun yang tidak pernah diberi nama, karena dua orang yang duduk di atasnya terlalu takut kehilangan satu sama lain untuk berani menamainya.

Para pengamat langit punya sebuah kata untuk hal seperti itu. Mereka menyebutnya konjungsi: saat dua benda tampak berdampingan di mata orang yang menengadah, padahal masing-masing tak pernah berhenti menempuh garis edarnya sendiri. Dari bawah sini, mereka kelihatan seperti hampir bersentuhan. Dari atas sana, ada jarak yang tak bisa ditempuh dengan mata.

Bumi tahu itu. Sejak kecil ia tahu bahwa ia hanya planet kecil yang berputar mengitari sesuatu yang jauh lebih terang. Yang tidak ia tahu adalah bahwa sebuah matahari pun bisa lelah memikul nama, dan bahwa cahaya yang terlalu dekat kadang bukan menghangatkan, melainkan membakar pelan-pelan.

Kisah ini dimulai dari sebuah pesan singkat di jam pelajaran Sejarah, dari seorang gadis yang bilang sakit banget, dan seorang anak laki-laki yang meninggalkan tasnya begitu saja di kolong meja.

Ia tidak berpikir. Ia tidak menimbang. Ia hanya berlari.

Itu bukan awal yang sebenarnya, tentu saja. Awalnya jauh lebih tua: di sebuah pintu UKS yang terbuka dua jari, di lapangan layang-layang yang berdebu, di sebuah rumah besar tempat seorang ibu belajar meredup agar orang lain bisa bersinar. Tetapi seperti semua hal yang paling penting, tak seorang pun menyadarinya saat itu terjadi.

Di langit sore di atas tribun itu, sebuah layang-layang merah, kecil dan sangat jauh, naik pelan ditiup angin. Tidak ada yang tahu siapa pemegang benangnya.

Kita hanya tahu bahwa ia belum putus.

Cinta yang paling jujur adalah tahu di mana cahayamu berada, lalu membiarkannya bersinar.


Chapter 01

Gravitasi Solana

Dalam garis edar semesta yang tak pernah ingkar janji, Bumi senantiasa menari mengitari sang Surya. Itu adalah sebuah keniscayaan purba; hukum alam tak tertulis yang telah tergariskan di kanvas angkasa sejak miliaran tahun silam. Planet biru tempat umat manusia merajut napas dan menggantungkan asanya ini akan selalu berotasi pada porosnya. Ia membiarkan dirinya ditarik oleh gravitasi raksasa, tunduk pada keagungan bintang yang menyala, seolah memang telah ditakdirkan untuk selalu berpulang pada satu sumber cahaya yang sama. Tanpa matahari, bumi hanyalah bongkahan batu beku yang mengembara tanpa arah di pekatnya galaksi.

Demikianlah Bumi yang sesungguhnya bekerja. Tunduk, patuh, dan absolut.

Namun, raga fana yang menyandang nama Bumi di hamparan dunia ini menempuh jalan takdir yang sedikit berbeda. Meski pada akhirnya, esensinya tetaplah sama. Ia berwujud seorang pemuda berbalut seragam putih-abu yang menduduki bangku kelas dua belas. Di mata dunia, wajahnya adalah kanvas ketenangan yang absolut, sepi dari riak emosi yang berlebihan. Ia adalah definisi dari keteduhan; tidak pernah tersulut amarah, jarang meninggikan suara, dan selalu hadir dengan pembawaan yang menenangkan. Akan tetapi, ironisnya, garis nasib yang ia tapaki tak ubahnya kodrat planet yang meminjamkan nama padanya.

Ia pun memiliki pusat gravitasinya sendiri. Ia, tanpa lelah dan tanpa sisa, mengorbit pada mataharinya sendiri.

Matahari itu mewujud dalam diri seorang gadis. Solana, namanya.

Sebuah asma yang memantulkan makna pijar mentari—menghangatkan, benderang, dan tanpa sadar selalu menjelma menjadi pusat semesta bagi segala hal di sekelilingnya. Solana tidak pernah perlu bersusah payah merajuk atau menuntut untuk dijadikan yang utama. Gravitasi gadis itu bekerja secara alami, menarik siapa pun yang berada dalam radiusnya, terutama Bumi.

Entah sejak kapan Bumi mulai membiarkan dirinya sepenuhnya ditarik oleh daya tarik gadis itu. Barangkali semenjak lima warsa silam, tatkala karsa dan rasa mereka masih terlalu kanak-kanak untuk mengeja makna dari sebuah pelukan batin. Nyatanya, rentang waktu itu sudah cukup dewasa untuk menjadikan satu sama lain sebagai sebuah rumah tempat berpulang.

Namun, ada satu hal yang luput dari pandangan orang-orang, bahkan mungkin dari kesadaran Bumi sendiri. Dalam diamnya, dalam rentetan perhatiannya yang tampak tanpa cela, ada sebuah ketidakseimbangan yang ganjil. Cinta Bumi kepada Solana telah bermutasi menjadi sesuatu yang begitu pekat, hingga ia kehilangan porosnya sendiri. Ia tidak menyadari bahwa ia telah membiarkan seluruh eksistensinya bergantung pada keadaan gadis itu. Kesejahteraan Solana bukan lagi sekadar prioritas, melainkan satu-satunya parameter kewarasan yang ia miliki. Dan pagi ini, parameter itu kembali diuji.

Jarum jam di dinding kelas yang kusam baru saja merangkak melewati angka sembilan. Di ruang kelas Bumi, suara bariton Ibu Rindian yang sedang menjabarkan materi Sejarah baru saja mengudara, mengisi kesunyian di antara derik kipas angin langit-langit yang berputar lambat. Pagi itu terasa seperti pagi-pagi lainnya, monoton dan sarat akan kantuk. Hingga tiba-tiba, kesunyian di sudut meja Bumi dikoyak oleh getar pelan dari saku celana abunya. Getaran itu singkat, namun cukup untuk membuat urat nadi di leher Bumi berdenyut lebih cepat. Ada pesan yang menuntut untuk dibaca.

Di bawah sembunyi bayang-bayang laci mejanya, layar ponsel itu menyala.

«Sol: Bum… sakit banget.»

Pemuda yang sejak tadi bersandar malas di sandaran kursi kayunya itu seketika menegakkan punggung. Tulang punggungnya kaku. Sorot matanya yang semula sayu dan tak acuh, kini menajam, menatap lekat pada deretan aksara di layar seolah kata-kata itu adalah mantra yang menyedot seluruh udara di sekitarnya.

«Sol: Hari pertama red-day.»

Satu helaan napas pendek dan putus-putus lolos dari bibirnya sebelum baris kalimat berikutnya kembali muncul.

«Sol: Aku pengen kabur dari sekolah.»

Tidak ada jeda untuk menimbang. Tidak ada proses rasionalisasi di dalam benak Bumi. Ia tidak memikirkan tentang sisa dua jam pelajaran Ibu Rindian yang terkenal kejam, tidak memikirkan nilai absennya yang sudah berada di ambang batas peringatan, atau ancaman surat panggilan orang tua yang mengintai. Di kepalanya, rasionalitas telah lama mati jika itu sudah menyangkut Solana.

Jari-jari Bumi menari cepat di atas layar, mengetikkan balasan dengan urgensi yang mengalahkan detak jantungnya sendiri.

«Tunggu di parkiran belakang. Aku jemput.»

Tidak ada rentetan pertanyaan cerewet tentang di mana tepatnya rasa sakit itu berpusat. Tidak ada petuah bijak dari seorang siswa teladan atau bujukan klise agar Solana mencoba bertahan sedikit lagi, minum air hangat, atau rebahan di ruang UKS hingga lonceng pulang berdentang.

Ia hanya mengiyakan. Sesederhana itu.

Karena Bumi sangat memahaminya. Apabila bibir Solana sudah merapal kata “sakit banget”, itu berarti lilitan nyeri yang menderanya sudah berada di titik puncak ketahanan seorang manusia. Solana adalah gadis yang keras kepala dalam menyembunyikan lukanya; jika ia sudah meminta tolong, artinya benteng pertahanannya telah rubuh sepenuhnya.

Dalam sepersekian detik, Bumi mencabut dirinya dari realitas sebagai seorang siswa.

SKRREEKK!

Suara decit kaki kursi kayu yang bergesekan kasar dengan lantai ubin yang berdebu melengking nyaring, membelah keheningan kelas. Ibu Rindian, yang sedang menuliskan tahun-tahun bersejarah di papan tulis, membeku dengan kapur yang masih menggantung di udara. Seluruh kepala di ruangan itu menoleh, puluhan pasang mata menatap bingung ke arah sudut belakang.

Bumi telah berdiri. Wajahnya pias namun rahangnya mengeras. Tanpa satu pun kata permisi, tanpa sedikit pun keraguan untuk menoleh pada guru di depan kelas, ia membalikkan badan. Tas ranselnya dibiarkan teronggok sepi, merana di kolong meja kayunya yang berdebu. Buku catatannya masih terbuka lebar. Ia melangkah lebar-lebar menuju pintu.

“Bum! Tas lu woi! Lu mau ke mana?!”

Teriakan Dio, teman sebangkunya, menggema dari ambang kepanikan, namun hanya menguap menjadi angin lalu di telinga Bumi.

“Bumi! Ibu belum selesai menerangkan! Bumi!” Seruan garang Ibu Rindian menyusul, memantul di dinding-dinding koridor.

Namun Bumi telah melesat. Kakinya membelah koridor kelas dua belas dan menuruni anak tangga dengan langkah tergesa, melompati dua hingga tiga anak tangga sekaligus. Napasnya memburu, namun bukan karena kelelahan fisik. Ada kepanikan tak kasat mata yang merayapi dadanya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa perilakunya ini menunjukkan sebuah cacat dalam logika emosionalnya; ia mengambil keputusan seolah-olah rasa sakit perut bulanan Solana adalah sebuah ancaman mematikan yang menuntutnya untuk segera datang menyelamatkan.

Ia mengerdilkan dunia, membuang tanggung jawabnya sendiri, hanya demi memvalidasi perannya sebagai pahlawan tunggal di kehidupan gadis itu.

Jarak menuju sekolah Solana secara geografis hanya terpaut beberapa kilometer, memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan angkutan umum yang membelah padatnya jalanan.

Begitu berhasil meloloskan diri dari gerbang samping sekolahnya yang setengah terbuka, Bumi langsung melompat ke dalam sebuah angkutan umum berwarna biru yang tengah melaju pelan. Di dalam sana, udara pagi yang mulai terik bercampur dengan bau bahan bakar solar dan debu jalanan. Angkot itu berjalan merayap, terjebak dalam simpul kemacetan di pertigaan lampu merah.

Dua puluh menit itu terasa seperti siksaan batin yang memanjangkan waktu menjadi keabadian. Bumi duduk di sudut bangku penumpang, napasnya sedikit tertahan. Jemarinya yang panjang dan kurus tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk bingkai kaca jendela angkot yang berkarat dengan ritme yang gelisah.

Tak. Tak. Tak. Setiap ketukan menggemakan dentang jarum jam di kepalanya. Matanya menatap tajam ke arah aspal yang memuai oleh panas, seolah tatapannya bisa memaksa kendaraan ini melaju lebih cepat.

Ia membayangkan Solana yang sedang meringkuk menahan perih, dan bayangan itu membuat ulu hatinya ikut terpelintir. Ini adalah sisi gelap dari afeksinya: Bumi tidak bisa mentolerir gagasan bahwa Solana menderita sendirian, bukan sekadar karena ia tidak tega, tetapi karena ia harus menjadi penawarnya. Ketergantungannya pada perasaan dibutuhkan oleh Solana adalah candu yang diam-diam meracuni kewarasannya.

Sebelum benar-benar melesat menuju gerbang sekolah gadis itu, di tengah kepanikannya, logika Bumi masih menyisakan satu ruang kecil untuk taktik. Langkahnya sempat terhenti ketika ia memaksa supir angkot menepi di pelataran sebuah apotek kecil yang dindingnya diselimuti debu jalan raya.

Dengan napas yang belum teratur, ia menerobos masuk, mengabaikan sapaan ramah apoteker, dan langsung menebus sekantung koyo penghangat sekali pakai favorit Solana, menyodorkan uang pecahan tanpa menunggu kembalian. Ia sadar sepenuhnya, lembaran sederhana dengan perekat itu tidak lantas menjadi sihir magis yang akan melenyapkan penderitaan Solana secara instan. Benda itu tidak akan menghentikan peluruhan di dalam rahim gadis itu. Akan tetapi, setidaknya benda itu mampu sedikit meredam siksaannya.

Dan bagi seorang Bumi, setitik kelegaan di wajah Solana, sekecil apa pun itu—terutama jika kelegaan itu datang dari tangannya—selalu bernilai jauh lebih berharga daripada semestanya sendiri.


Chapter 02

Suaka di Sudut Lapangan

Dua puluh menit yang terasa bergulir begitu lambat, mencekik leher Bumi dengan jemari kecemasan yang tak kasat mata, akhirnya bermuara pada sebuah perhentian.

Area parkir di belakang sekolah Solana menyuguhkan pemandangan yang kontras. Lengang, tersembunyi dari hiruk-pikuk gerbang utama yang dijaga ketat oleh satpam. Di bawah naungan bayang-bayang pohon mahoni yang meranggas, berdirilah seorang gadis dalam balutan seragam kemeja putih dan rok oranye khas sekolahnya.

Tubuh Solana sedikit membungkuk. Kedua lengannya mendekap erat perutnya sendiri, seolah tengah menahan sesuatu yang siap luruh dan hancur berantakan dari dalam tubuhnya. Wajahnya yang biasa merona kini pias tak berdarah, sepucat pualam yang kehilangan pantulan cahaya. Bibirnya yang mungil mengerucut kaku, menahan ringisan perih yang tertahan dan memberontak di kerongkongan. Semilir angin pagi mempermainkan helaian poni hitamnya dengan lembut, sebuah sentuhan halus yang ironisnya berbanding terbalik dengan badai yang tengah mengamuk di dalam perutnya.

Begitu deru mesin angkot memelan dan siluet Bumi muncul dari balik pintu kendaraan yang menepi, bahu gadis itu seketika merosot. Ketegangannya mengendur. Sebuah embusan napas lega yang panjang meluncur dari bibir pucatnya, seolah melihat Bumi adalah satu-satunya obat penawar rasa sakit yang ia butuhkan.

“Kamu lama.”

Suara Solana serak, bergetar oleh campuran rasa lega dan nyeri.

Bumi memangkas jarak di antara mereka dalam tiga langkah lebar. Tatapannya menyapu wajah Solana, merekam setiap gurat kesakitan di sana. Ada desir kepuasan yang ganjil dan kelam di sudut hati Bumi ketika menyadari bahwa di saat tersulitnya, gadis ini tetap mencarinya. Bukan UKS, bukan teman-teman perempuannya, melainkan dirinya.

“Soalnya sempat mampir ke apotek,” jawab Bumi tenang, suaranya mengalun seperti air sungai yang meredam bara api. Ia mengangkat kantong plastik putih kecil di tangannya ke udara.

Melihat kantong itu, lengkungan tipis akhirnya terbit di bibir pucat Solana. Senyum yang lelah, rapuh, namun memancarkan kehangatan yang membuat jantung Bumi berdetak pada ritme yang normal kembali.

“Kamu tuh, ya…” Solana berbisik lemah.

“Ayo.”

Bumi tidak membiarkan kalimat gadis itu selesai. Ia tidak butuh ucapan terima kasih atau sanjungan. Mereka berbalik, melangkah berdampingan menjauh dari pagar besi menjulang yang seolah memenjarakan masa remaja mereka.

Membolos.

Sebuah kata sarat dosa dan pemberontakan yang mungkin akan membuat guru bimbingan konseling mereka mengelus dada sambil menyiapkan surat peringatan. Namun hari itu, di atas trotoar yang aspalnya mulai menghangat dijilat matahari, nilai moral, kedisiplinan, dan deretan presensi di buku absensi terasa begitu banal. Aturan-aturan itu menjadi serpihan debu yang tidak penting bila disandingkan dengan rasa sakit yang tengah menggerogoti Solana. Bagi Bumi, jika dunia menyakiti mataharinya, maka persetan dengan dunia.

Mereka kembali menumpang angkutan umum yang berbeda, membiarkan roda-roda kendaraan yang berdecit membawa mereka menjauh dari zona sekolah. Tak banyak aksara yang bertukar di antara keduanya di bangku penumpang yang reyot. Sesekali, saat angkot berguncang melewati jalan berlubang, Solana terpejam erat, jemarinya meremas kain seragam di bagian perutnya hingga buku-buku jarinya memutih, tatkala gelombang nyeri itu kembali menghantam perut bagian bawahnya.

Bumi tidak mencoba merangkai kata-kata penenang yang kosong dan artifisial. Ia tidak mengatakan “sabar ya” atau “sebentar lagi sampai”. Ia hanya duduk bersisian di sebelahnya. Lengannya dengan sengaja dirapatkan hingga bahu mereka bersentuhan. Ia hadir. Diam. Menjadi pilar yang tak tergoyahkan. Dan bagi Solana, diamnya seorang Bumi selalu menjelma menjadi selimut ketenangan yang tak tergantikan, sebuah anomali di tengah dunia yang selalu menuntutnya untuk terus bergerak.

Titik pelarian mereka bukanlah kehangatan kasur berbau pelembut pakaian di rumah masing-masing. Membolos ke rumah di jam seperti ini sama saja dengan bunuh diri menyerahkan leher pada omelan ibu mereka. Langkah mereka justru bermuara pada sebuah kantin kecil bersahaja di pelataran GOR Stadion kota.

Letaknya cukup terpelosok dari jangkauan patroli guru-guru dari kedua sekolah mereka; sebuah lanskap terbuka yang selalu ramai oleh peluh orang-orang berolahraga pagi, deretan gerobak pedagang yang mengepulkan asap, namun anehnya cukup tersembunyi untuk menyamarkan eksistensi dua remaja berseragam yang tengah lari dari kewajiban akademis.

Mereka mengklaim sebuah meja kayu usang dengan lapisan cat biru yang sudah mengelupas di sudut paling teduh, terhalang rimbunnya pohon ketapang. Udara pagi menjelang siang di GOR masih menyisakan sejuk yang memanjakan kulit, diselingi lengkingan peluit dari tengah lapangan rumput yang sesekali terbawa embusan angin.

Bumi duduk dan menatap lamat-lamat sosok di hadapannya yang kini duduk membungkuk, menyandarkan berat tubuh bagian atasnya ke meja.

“Udah sedikit baikan sekarang?” suara Bumi memecah deru angin.

Tanpa ragu, tangan Bumi terulur melintasi meja. Telapak tangannya yang lebar dan hangat mendarat pelan di dahi gadis itu, menyingkirkan helaian poni yang menempel karena keringat dingin. Tidak ada suhu yang melonjak tajam. Kulitnya terasa normal.

Solana menggeleng lemah tanpa menyingkirkan sentuhan tangan Bumi dari dahinya. Bukan suhu tubuh yang menyiksanya. Melainkan lilitan tak kasat mata yang seolah sedang meremas, menarik, dan memelintir seluruh organ di perut bagian bawahnya tanpa ampun dan tanpa henti.

“Aku tuh bukan demam, Bum.” Gadis itu mendengus kecil, menyelipkan nada frustrasi yang kental pada pengkhianatan tubuhnya sendiri. “Tapi aku sakit red-day hari pertama. Parah banget. Rasanya kayak organ dalemku lagi diperes.”

Bumi menarik tangannya perlahan, gerakannya terukur dan sangat hati-hati, seolah takut sentuhan sekecil apa pun akan menambah beban gadis itu.

“Maaf,” ucap Bumi lirih.

Kata itu meluncur dengan porsi rasa bersalah yang tulus dan mendalam, meski logikanya tahu betul bahwa dirinya tidak punya kendali apa pun atas siklus biologis tersebut. Ia meminta maaf karena semestanya tidak membekalinya kemampuan magis untuk memindahkan rasa sakit itu ke tubuhnya sendiri.

“Aku harus lakuin apa biar kamu merasa lebih enakan, Sol?”

Sejenak, Solana hanya bisa merespons dengan tarikan napas panjang yang sarat akan kelelahan fisik.

Lima warsa berbagi presensi dalam garis waktu yang sama membuat mereka terlalu hafal tabiat satu sama lain hingga ke bagian yang paling mikroskopis. Di luar sana, dunia mengenal gadis ini dengan panggilan Lana. Para guru yang mengabsennya, teman-teman sebayanya yang mengajak jajan, tetangga sebelah rumah, bahkan ibu-ibu penjaga kantin di sekolah—semuanya memanggilnya Lana.

Namun entah dorongan primordial dari mana, bibir Bumi selalu bersikeras mengejanya sebagai ‘Sol’. Barangkali di mata pemuda itu, nama Solana terlalu agung dan indah untuk dipangkas menjadi sekadar Lana yang terdengar pasaran. Atau mungkin, ada motif yang lebih egois yang bersembunyi di balik ketenangannya. Silabel ‘Sol’ terdengar jauh lebih intim. Lebih merasuk. Lebih terasa seperti sebuah stempel kepemilikan eksklusif yang hanya, dan hanya, boleh disuarakan olehnya seorang.

Bumi kemudian merogoh saku celana abunya yang dalam. Ia mengeluarkan kepingan koyo penghangat yang sempat ia tebus dengan panik tadi, merobek kemasan plastiknya, lalu menyodorkannya ke seberang meja.

“Nih. Pakai.”

Solana menerimanya tanpa penolakan, mengerti betul cara kerjanya tanpa perlu diinstruksikan. Begitu hawa panas dari lembaran beraroma herbal itu mulai menguar ke udara, ia segera menyelipkannya ke balik kancing kemeja seragamnya di area bawah pusar, memastikan permukaan hangat dari koyo itu bersentuhan langsung dengan kulit perutnya yang tengah tersiksa.

Seketika, ketegangan yang sejak tadi mengunci urat-urat di bahunya perlahan meluruh, seolah es yang disiram air mendidih.

“Ah…” Solana memejamkan mata erat-erat, membiarkan desahan lega yang panjang lolos dari bibirnya. “Nyamannya.”

Ia kemudian menelungkupkan kepalanya di atas lipatan lengannya di atas meja kayu, mempertahankan postur badannya agar penghangat itu tetap menekan erat sumber nyerinya. Meski rasa sakit yang meremas perutnya itu belum sepenuhnya pudar, setidaknya cengkeraman kejam itu mulai terasa sedikit melonggar. Otot-ototnya akhirnya bisa beristirahat dari kejang yang menyiksa.

Mendapati tarikan napas Solana yang perlahan mulai teratur, tidak lagi putus-putus, dan wajahnya yang tak lagi setegang tadi, Bumi akhirnya membiarkan dirinya menghela napas lega. Ia bangkit dari kursi kayunya yang berderit.

“Aku tinggal bentar,” pamit Bumi pelan, sehalus embusan angin. Ia lalu memutar tubuh jangkungnya menuju deretan etalase kantin sederhana yang jaraknya hanya belasan langkah dari meja mereka.

“Itu teh teu nanaon, Aa? Neng Lana sakit apa pucet pias kitu?”

Ibu penjaga kantin yang berdaster batik—yang sudah hafal betul dengan wajah sepasang remaja langganannya itu—menatap ke arah meja sudut dengan gurat khawatir yang kental di wajah keriputnya. Logat Sundanya mengalun membelah suara desis minyak goreng dari wajan, terdengar begitu hangat, akrab, dan tulus.

“Gak apa-apa kok, Bu. Aman,” jawab Bumi tenang. Ia membuka pintu lemari pendingin berkaca buram yang berdengung pelan, meraih dua kotak susu UHT rasa cokelat dan stroberi, rasa favorit yang tak pernah berubah sejak mereka duduk di bangku SMP. “Biasa, tiap bulan juga begini rutinitasnya.”

“Oh, alah… kirain teh kenapa.” Ibu kantin menganggukkan kepala mafhum. Raut khawatirnya seketika memudar bagai kabut tertiup angin, berganti dengan senyum penuh arti yang membuat sudut matanya berkerut. Kepalanya menggeleng-geleng kecil, menatap Bumi dengan tatapan jenaka penuh takjub.

“Meuni perhatian pisan Aa mah sama sahabat teh,” goda beliau terkekeh renyah, sebuah tawa menggoda khas orang tua yang merasa punya intuisi tajam untuk mencium gelagat asmara anak muda yang sedang kasmaran. “Hati-hati lho, A. Awas nanti dari sahabat malah jadi suka beneran. Repot nanti urusannya…”

Mendengar godaan telak itu, reaksi Bumi bukanlah seperti remaja pada umumnya. Ia tidak lantas tersipu, telinganya tidak memerah, apalagi tergagap mencoba menghindar atau menyangkal. Ia justru merespons dengan sesuatu yang sangat langka: ia ikut tertawa.

Sebuah tawa bariton yang mengudara dengan sangat ringan, lepas, dan tanpa beban. Seolah ia memang sudah menantikan momen untuk menjawab kalimat klise tersebut sejak lama sekali. Seolah pertanyaan itu adalah panggung yang memang sengaja ia tunggu tirainya terbuka.

Ia meletakkan beberapa lembar uang kertas pecahan puluhan ribu di atas etalase kaca, lalu memutar tumitnya, melangkah kembali menuju meja sudut tempat semestanya sedang beristirahat.

Sambil memangkas jarak langkah demi langkah, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, Bumi menjawab godaan sang ibu kantin. Dan kali ini, ia tidak merendahkan suaranya. Ia justru menaikkan oktafnya, mengucapkan kalimat itu dengan volume suara yang sama sekali tidak ditahan, membiarkan gema suaranya memantul di dinding-dinding seng kantin.

“Haha…”
“Sudah suka kok, Bu. Dari dulu.”

Langkahnya tak sedikit pun melambat. Postur tubuhnya tegak. Nada suaranya pun jauh dari kesan berseloroh atau bercanda. Barisan kata itu meluncur lugas, tajam, membelah udara beraroma gorengan dengan kemantapan yang tak tertembus peluru. Seolah kejujuran itu memang sudah bertahun-tahun merasuk, mengkristal, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sumsum tulang dan aliran darahnya.

Suara baritonnya yang jernih dengan mudah menembus riuh rendahnya GOR, merangsek lurus dan mendarat dengan presisi yang mutlak—menghantam gendang telinga Solana.

Di sudut meja kayu itu, sang gadis perlahan mengangkat kepalanya dari lipatan lengan. Tatapannya yang sayu dan sedikit berair karena menahan sakit kini bersirobok langsung dengan sepasang netra gelap milik Bumi yang terus melangkah mendekat ke arahnya.

Untuk satu tarikan napas yang tertahan di dada Solana, sensasi lilitan di perutnya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh sengatan listrik tak kasat mata yang merayap di sepanjang tulang belakangnya.

Karena Solana tahu betul karakter pemuda itu. Kalimat barusan sama sekali tidak diucapkan secara kebetulan atau karena terpancing godaan. Kalimat itu sengaja dilantangkan dengan desibel setinggi itu, semata-mata agar ia mendengarnya. Agar tidak ada satu pun suku kata yang tercecer terbawa angin pagi. Bumi memastikan bahwa Solana adalah saksi utama dari proklamasi perasaannya.

Dan begitulah kenyataannya. Bumi ingin Solana mendengar kalimat itu lagi.

Untuk yang keenam kalinya…

Atau, tidak. Sebenarnya, jika harus jujur, mereka berdua sudah lama kehilangan hitungan pasti. Yang jelas, di sepanjang bentangan lima tahun kebersamaan mereka yang saling tumpang tindih, Bumi telah mendedahkan perasaannya berulang-ulang kali. Tak kurang dari lima kali pengakuan itu mengudara di berbagai kesempatan, di tengah rintik hujan, di atas jok motor, hingga di lorong perpustakaan.

Dan hari ini, di bawah atap seng kantin yang sederhana dan bising, di tengah pelariannya dari realitas demi merawat rasa sakit Solana, pemuda itu mengatakannya lagi.

Tanpa secuil pun keraguan. Tanpa ada bayang-bayang rasa malu yang menyembunyikan intensinya.

Karena bagi Bumi, tidak ada yang perlu disembunyikan dari sebuah kebenaran alam semesta: bahwa terus mengelilingi mataharinya, menjadikan gadis itu sebagai satu-satunya pusat rotasinya hingga kapan pun, memang sudah menjadi satu-satunya takdir yang ingin—dan mampu—ia jalani. Meskipun takdir itu mungkin saja perlahan-lahan menelannya utuh-utuh.


Chapter 03

Hukum Alam yang Menua

Setiap kali asma itu merapal dalam senyap, sang pemilik nama akan senantiasa menampakkan wujudnya.

Bumi tidak pernah mengalkulasi seberapa pelik kesibukannya. Ia tak pernah sudi menimbang seberapa jauh jarak yang membentang, atau pengorbanan apa yang harus ia korbankan dan tinggalkan di belakang. Layaknya sebuah keniscayaan, sedari dulu kompas kehidupannya memang telah diprogram—atau lebih tepatnya, ia yang memprogramnya sendiri—untuk selalu mengorbit pada satu titik koordinat yang sama.

Jarum jam semesta terus berputar, melahap warsa demi warsa tanpa belas kasih. Waktu mengikis masa remaja mereka, menggantinya dengan realitas kedewasaan yang banal dan menuntut.

Seragam putih-abu dan kemeja putih-oranye yang dulu melekat, kini telah tanggal selamanya, berganti dengan setelan pakaian kerja yang rapi, kaku, dan beraroma parfum mahal. Dering lonceng pergantian jam pelajaran yang dulu membebaskan, telah bermutasi menjadi rentetan jadwal rapat, tenggat waktu proyek, dan denting surel yang merantai. Duduk bersisian dengan bahu bersentuhan di kursi angkutan umum yang lusuh kini telah digantikan oleh tangan mereka sendiri yang mengendalikan kemudi kendaraan masing-masing, terpisah oleh sekat logam dan kaca di jalanan ibu kota yang memuakkan.

Banyak hal di sekeliling mereka yang luruh dan berganti wujud. Teman-teman yang datang dan pergi, ambisi yang berubah arah, hingga bentuk kota yang terus bersolek. Namun, di tengah segala transisi yang terjadi, ada satu aksioma yang menolak tunduk pada waktu.

Bumi masih setia menari, mengelilingi mataharinya.

Sore itu, kanvas langit ibu kota menggantungkan gumpalan mendung yang pekat, seolah siap menumpahkan seluruh beban kelabunya ke atas aspal. Di lantai belasan sebuah gedung perkantoran, Bumi tengah duduk terpaku di balik meja kerjanya. Matanya menatap tajam deretan angka dan grafik pada layar monitor ganda di hadapannya. Ia sedang berada di tengah penyusunan laporan akhir bulan—sebuah dokumen krusial yang ditunggu oleh jajaran direksi dalam dua jam ke depan.

Rintik hujan baru saja menitik, melukis jejak-jejak air yang meliuk turun di hamparan kaca jendela ruang kerjanya. Suara gemeritiknya tersamar oleh dengung pendingin ruangan.

Tepat pada detik itu, ponsel yang tergeletak di samping papan tiknya bergetar pelan, menyalakan layar yang sedari tadi terlelap.

Nama yang berpendar di layar itu bagai sebuah mantra kuno yang seketika membekukan jemari Bumi di atas pendar kibor. Laporan bernilai ratusan juta di hadapannya mendadak kehilangan seluruh validitas dan urgensinya.

Sol.

Tanpa membiarkan dering itu mengudara untuk kedua kalinya, tanpa memedulikan rekan kerjanya yang tengah melintas, Bumi langsung menyapu layar.

“Halo?”

Suara yang menyapa rungu Bumi di seberang sana terdengar begitu ringkih. Patah-patah, berat, dan diselubungi statis yang menyayat hati. Suara itu mirip napas seseorang yang harus menguras sisa-sisa tenaga hidupnya hanya untuk sekadar memproduksi getar di pita suara.

“Bum…”

Satu silabel itu sudah cukup. Otot rahang Bumi mengeras. “Iya, Sol?”

“…aku sakit.”

Seketika itu juga, Bumi memutus kontak visual dengan layar komputernya. Tubuhnya bangkit serentak dari kursi ergonomis, menciptakan decit pelan namun sarat akan ketegangan. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak monoton mengikuti ritme pekerjaan, kini memacu tempo dengan beringas.

“Kenapa? Kamu demam?” tanya Bumi. Tangannya yang bebas sudah mulai meraih jas yang tersampir di sandaran kursi, tak lagi peduli pada deretan angka di layar monitornya.

“Hm…” Terdengar helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan dari bibir Solana. Suara napas itu bergetar, menyeret udara dengan susah payah. “Demam dari tadi malam, Bum. Tenggorokanku rasanya seperti ditusuk-tusuk beling… sakit banget buat nelan ludah sekalipun.”

Gadis itu menjeda kalimatnya, terdengar suara batuk kering yang menyiksa, sebelum ia kembali meraup oksigen dan bersuara parau. “Kepalaku pening sekali… sendi-sendiku ngilu semua. Batuknya juga gak mau berhenti dari subuh.”

“Kamu sudah periksa? Jangan bilang kamu cuma tiduran menahan sakit dari kemarin.” Nada suara Bumi turun satu oktaf, sebuah teguran halus yang dibalut oleh kepanikan yang mendalam.

“Kemarin sepulang kerja aku mampir ke klinik. Dokter bilang ini infeksi saluran napas atas…” Solana terdengar nyaris berbisik sekarang. “Udah diresepin antibiotik sama obat penurun panas. Tapi kemarin apotek kliniknya kehabisan stok antibiotiknya. Aku cuma bawa pulang obat demamnya…”

Volume suaranya perlahan menyusut, seolah daya tahannya benar-benar sedang terkuras habis detik demi detik. “Aku pikir besok paginya aku bisa cari ke apotek luar. Tapi hari ini aku bener-bener gak kuat berdiri lama, Bum. Baru jalan ke dapur buat ambil minum aja rasanya dunia udah muter hebat. Aku nggak bisa keluar rumah.”

Bumi memejamkan mata rapat-rapat. Ia mencengkeram tepi meja kerjanya kuat-kuat untuk meredam desakan rasa cemas yang merayap cepat, mencekik paru-parunya.

Dalam diam, sisi gelap dari devosinya kembali mengambil alih. Bukannya menyarankan Solana untuk menggunakan layanan pesan antar obat dari aplikasi medis daring—solusi paling rasional dan cepat bagi orang dewasa di era modern—logika Bumi sengaja membutakan diri. Ia tidak menginginkan perantara. Ia menganggap bahwa rasa sakit Solana adalah sebuah krisis absolut yang menuntut intervensi langsung dari tangannya.

Ia mengerdilkan solusi lain demi membenarkan kehadirannya.

“Kertas resepnya masih ada?” tanya Bumi datar, sebuah ketenangan artifisial yang menutupi badai di kepalanya.

“Ada. Di atas nakas.”

“Foto. Lalu kirim ke aku sekarang.”

“Tapi Bum, ini di luar hujan deres banget. Kamu bukannya lagi banyak deadline laporan? Aku bisa coba—”

“Foto aja, Sol.”

Nadanya tak terbantahkan. Ia memotong kalimat Solana dengan kelembutan yang sangat mutlak dan tegas. Sebuah kalimat perintah yang tidak menyediakan ruang untuk negosiasi.

Bumi memutuskan panggilan sepihak. Ia menyambar kunci mobil, dompet, dan mengetik pesan sesingkat “AFK” di ruang obrolan kantornya. Baginya, meski nanti ia harus bekerja tiga kali lebih mengebut, tak mengapa. Atau bila saat kembali ke kantor nanti ia jadi harus lembur atau bahkan ditegur, ini tidak akan ada artinya dibandingkan dengan satu ringisan kesakitan Solana. Pergeseran prioritas yang tak masuk akal ini adalah retakan yang tak pernah Bumi sadari.

Tak berselang lama setelah ia masuk ke dalam lift yang meluncur turun, sebuah potret lembaran resep dokter mendarat di ruang obrolan mereka. Bumi memperbesar gambar tersebut. Sepasang netranya memindai deretan tulisan tangan dokter dan nama-nama medis dengan teliti, meresapinya satu per satu hingga ia hafal di luar kepala.

Lalu, ia bergegas membelah hujan.

Namun, kemudinya tidak langsung ia arahkan untuk melesat menuju kediaman Solana. Mobil sedan hitamnya justru meliuk menembus tirai hujan yang menderas, menyinggahi jantung kota di mana beberapa apotek besar berjejer.

Bumi tidak sedang menebus obat biasa. Ia sedang menjalankan ritual.

Satu pintu apotek ke pintu lainnya ia masuki dengan pakaian yang setengah basah kuyup. Di apotek pertama, ia tak sekadar menyerahkan selembar resep dari layar ponselnya. Saat apoteker menyodorkan merek antibiotik generik, rahang Bumi menegang. Ia berdiskusi—atau lebih tepatnya, menginterogasi—sang apoteker.

“Apakah ada obat bermerek lain dengan paten yang lebih baik? Zat aktifnya sama, tapi saya mau eksipien yang paling aman untuk lambung sensitif. Teman saya ini gampang mual kalau minum obat keras,” cecar Bumi, kedua tangannya menumpu pada etalase kaca.

Apoteker itu sampai harus memanggil rekannya yang lebih senior untuk melayani permintaan spesifik pemuda ini.

Bumi tidak berhenti di situ. Ia tidak bisa hanya mengandalkan resep dokter. Ia merasa harus memberikan perlindungan ekstra. Ia menyusuri rak-rak suplemen, menebus vitamin C berdosis tinggi yang aman untuk asam lambung, madu manuka asli berlabel impor, menyortir merek oralit dengan rasa yang paling bisa ditoleransi lidah, hingga membeli tiga jenis permen pelega tenggorokan yang tekstur dan bahannya paling ramah untuk diisap. Ia bahkan nyaris membeli sebuah humidifier mahal di sudut apotek sebelum menyadari bahwa Solana sudah memilikinya di kamar.

Bagi Bumi, ini bukanlah sekadar tugas menggugurkan kewajiban menolong seorang teman. Apabila mataharinya harus kembali bersinar terang, maka ia akan memastikan hanya hal-hal paling paripurna, paling sempurna, dan paling tak tercela yang menopang kesembuhannya. Ia merasa memiliki tanggung jawab—sebuah ilusi kendali—atas kesehatan Solana.

Hampir satu jam waktu terlipat di bawah rinai hujan dan lalu lintas kota yang merayap. Barulah kantong plastik besar berlogo apotek di jok sampingnya terisi penuh.

Dengan napas yang sedikit memburu dan kemeja yang menempel dingin di kulitnya, Bumi menginjak pedal gas, membawa seluruh “persembahannya” menuju rumah sang mentari.


Chapter 04

Afeksi

Tatkala roda mobil Bumi memasuki pelataran rumah Solana dan mematikan mesin, sang surya di langit nyatanya sudah mulai meredup, menitipkan semburat jingga kemerahan yang temaram di ufuk barat. Hujan telah bermutasi menjadi rintik-rintik halus, menyisakan aroma petrikor yang menguar kuat dari aspal dan tanah basah.

Rumah sederhana bergaya klasik yang biasanya selalu memancarkan kehangatan dan gelak tawa itu, kini memeluk keheningan yang syahdu dan murung. Bumi melangkah melewati teras, menenteng kantong plastiknya dengan genggaman erat.

Ketukan pelannya di pintu utama dibalas dengan derit engsel yang pelan, memunculkan sosok wanita tua dari baliknya. Gurat usia tercetak jelas di wajahnya, namun matanya memancarkan kelembutan yang tak lekang oleh waktu.

“Eh, Nak Bumi,” sapa wanita itu, suaranya diayun kelegaan.

“Selamat sore, Uti,” sapa Bumi seraya menundukkan kepala takzim, mencium punggung tangan nenek Solana dengan hormat.

“Datang buat nengokin Lana, ya? Repot-repot amat ujan-ujan begini, Nak,” ucap Uti. Ada sebersit tatapan kasihan di kedalaman mata wanita tua itu—kasihan melihat pemuda yang sejak belasan tahun lalu tak pernah beranjak sedikit pun dari pekarangan hati cucunya, meski waktu terus berjalan.

Bumi mengangguk pelan, seolah basah di kemejanya bukanlah apa-apa. Ia mengulurkan kantong plastik besar berisi rentetan obat, suplemen, dan perbekalan nutrisi itu ke tangan Uti. “Gimana keadaan Sol sekarang, Uti? Masih demam tinggi?”

“Panasnya sudah agak turun setelah Uti kompres tadi. Neng Lana dari habis ashar tadi terlelap pulas. Kasihan, semalaman dia nggak bisa tidur nyenyak karena batuk terus,” ujar Uti. Beliau menerima kantong tersebut dengan senyum teduh, mengintip isinya dan mendesah kagum melihat betapa detailnya barang bawaan Bumi, lalu melirik lembut ke arah lorong tempat kamar cucunya berada.

“Mau Uti bangunin sebentar Lana-nya? Biar dia tahu kamu repot-repot ke sini, sekalian suruh minum obat yang kamu tebus ini.”

Mendengar tawaran itu, pandangan Bumi ikut menelusuri arah yang sama.

Daun pintu kamar Solana di ujung lorong ternganga sedikit, menyisakan celah sekepalan tangan yang cukup baginya untuk mencuri pandang. Dari ambang batas yang temaram itu, di bawah sapuan cahaya keemasan dari lampu tidur, Bumi melihatnya.

Ia melihat sosok perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu. Perempuan dewasa yang presensi dan eksistensinya telah menguasai lebih dari separuh masa hidup Bumi. Perempuan yang menjadi satu-satunya parameter kebahagiaannya. Saat ini, Solana tengah tenggelam dalam bunga tidur.

Wajahnya pias tak merona, jejak-jejak demam masih meninggalkan sisa kelelahan yang nyata di sekitar matanya. Tarikan napasnya mengalun pelan, ritmis namun dangkal dan lemah. Sebuah kompres penurun panas yang mulai mengering menempel di dahinya.

Selimut tebal berwarna peach mendekap erat tubuhnya hingga sebatas dada, melindunginya dari hawa dingin yang dibawa hujan. Di atas meja nakas mungil, bertengger segelas air putih yang tak lagi utuh, ditemani botol obat penurun panas yang isinya tinggal separuh.

Di detik itu, ada godaan besar untuk masuk. Untuk mengusap keningnya, menyuapkan obat yang telah ia perjuangkan, dan melihat sepasang mata Solana terbuka menatapnya dengan penuh rasa syukur. Bumi tahu, jika ia membangunkannya, ia akan mendapatkan validasi atas perannya. Ia akan mendapatkan posisi sang pahlawan yang selalu ada.

Namun, di sinilah retakan psikologis itu kembali membuktikan bentuknya yang ganjil.

Bumi tidak membutuhkan ucapan terima kasih Solana. Ia justru merasa jauh lebih aman ketika mengagumi Solana dalam kondisi tidak sadar seperti ini. Ketika Solana tidur, gadis itu tidak akan mempertanyakan intensitas kehadirannya yang berlebihan. Solana tidak akan merasa sungkan atau terbebani oleh perhatian Bumi yang terkadang terasa mencekik. Dalam tidurnya, Solana adalah kanvas kosong yang bisa Bumi hujani dengan kasih sayang mutlak, tanpa perlu menghadapi realitas bahwa hubungan mereka mungkin tidak akan pernah bergerak melampaui garis batas yang mereka buat sendiri.

Bumi buru-buru menggeleng pelan kepada Uti.

“Ah… tidak usah, Uti,” bisiknya pelan, melengkungkan senyum yang sangat tipis dan tertahan. “Biarkan dia istirahat saja. Dia butuh tidur lebih dari apa pun saat ini.”

Dengan langkah berselang-seling yang seringan kapas, seolah takut gesekan sepatunya pada lantai keramik akan memicu guncangan, Bumi menapak perlahan mendekati celah pintu kamar.

Ia sama sekali tidak berniat menerobos masuk untuk merusak suaka kesunyian itu. Ia hanya memaku pijakannya di ambang pintu. Mematung bagai penjaga kuil purba, ia meresapi pemandangan di hadapannya sembari meyakinkan batinnya sendiri bahwa sang matahari benar-benar sedang beristirahat dengan damai.

Tanpa memecah keheningan. Tanpa mengusik nyenyaknya.

Setelah puas memastikan dada gadis itu naik-turun dengan teratur, Bumi membalikkan badan. Ia mengambil kembali kantong obat dari pangkuan Uti sejenak. Dengan kehati-hatian tingkat tinggi yang menyerupai cara seorang seniman memegang porselen peninggalan dinasti rapuh, ia menyelinapkan sebelah tangannya melewati celah pintu. Ia meletakkan kantong kresek berisi ragam obat dan permen pelega tenggorokan itu tepat di atas rak kecil yang menyatu dengan sandaran ranjang Solana. Sebuah titik strategis, yang tak akan mungkin luput dari pandangan mata gadis itu sesaat setelah kelopaknya terbuka nanti.

Ia menarik tangannya mundur, membiarkan matanya merengkuh siluet wajah damai Solana untuk beberapa detik terakhir sebelum waktu berkunjungnya habis.

Lalu, sebuah senyum kembali mengembang di wajah lelah pemuda itu. Kali ini, senyum itu nyaris tak kasatmata. Bukan senyum kemenangan, melainkan sebuah tarikan bibir kelegaan dari seorang pemuda yang gumpalan batu raksasa di dadanya baru saja menguap ke udara. Ia lega karena raga yang paling ia dewakan nyatanya baik-baik saja dan terawat.

Setelahnya, tanpa suara berlebih, Bumi berbalik undur diri.

Ia mengucap pamit dengan suara setengah berbisik pada Uti, meninggalkan pesan taktis kapan obat antibiotik itu harus diminum, lalu melangkah keluar, menyatu kembali dengan hawa dingin dan sisa-sisa senja yang mulai menggelap.

Ia pergi tanpa meninggalkan jejak suara yang bisa membangunkan Solana. Ia pulang tanpa memiliki secuil pun ekspektasi untuk menagih ucapan terima kasih di keesokan harinya. Tanpa merasa perlu dibayar oleh tatapan penuh haru atau balasan pesan romantis dari mata gadis itu.

Sebab bagi semesta seorang Bumi, sejak bertahun-tahun yang lalu hingga detik ini… afeksi bukanlah sebuah komoditas. Afeksi bukanlah sebuah transaksi emosional yang menuntut validasi dari penerimanya, apalagi timbal balik rasa yang sepadan.

Ia merawat karena ia menghamba pada rasa inginnya sendiri. Ia memberi karena tidak memberi akan membunuhnya dari dalam. Ia mencintai Solana dengan cara yang begitu absolut, hingga cintanya itu sendiri telah berubah menjadi sebuah tirani yang mengikat dirinya sendiri.

Sesederhana itu. Bisu, menyedihkan, sekaligus mutlak.

Sama halnya dengan planet biru yang terus bertahtakan kesetiaan mengitari pusat tata surya; planet itu hanya tahu cara berotasi dan berevolusi. Ia tak pernah menjerit menembus ruang hampa angkasa, meminta sang matahari untuk berhenti berpijar sejenak hanya untuk menoleh dan mengapresiasi keberadaannya. Bumi akan terus mengorbit, meski pada akhirnya panas matahari itu mungkin akan perlahan-lahan membakarnya hingga menjadi debu bintang.


Chapter 05

Tarikan Gravitasi Pertama

Bila suatu hari nanti semesta yang maha luas ini berhenti sejenak dari putarannya, dan menuntut sebuah jawaban mutlak tentang sejak kapan tepatnya gravitasi ini mulai bekerja… Sejak kapan benang merah transparan itu mengikat keduanya dalam sebuah dinamika yang ganjil dan tak terpatahkan…

Maka jawabannya bukanlah bermula dari bulan lalu, bukan dari tahun lalu, dan bukan pula dari insiden kantin beberapa tahun yang silam. Garis mulanya tidak berakar pada masa-masa di mana tubuh mereka mulai bertransformasi menjadi remaja belasan tahun yang baru meraba-raba dan mengenal karsa.

Jauh. Jauh di masa silam sebelum logika seorang Bumi mampu mengeja dan mendefinisikan apa itu cinta. Lama sebelum seorang Solana menyadari betapa magis arti di balik namanya sendiri yang mampu menawan sebuah planet.

Benang merah itu telah lama terpintal di bawah keheningan kabut.

Tepatnya, dua belas warsa yang lalu.

Pada masa itu, Bumi masihlah seorang bocah laki-laki berusia tiga belas tahun; seorang murid yang baru saja menanggalkan celana merahnya dan tengah mencicipi hiruk-pikuk masa peralihan di kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Sementara Solana, setahun lebih muda darinya, masih mengamankan posisinya sebagai siswi kelas enam di sebuah Sekolah Dasar.

Itu adalah sebuah hari Sabtu di pertengahan bulan yang dibalut hawa sejuk menusuk tulang. Sekolah menengah Bumi tengah menggelar kegiatan olahraga lintas alam tahunan. Rutenya tidak main-main bagi fisik anak-anak seusia mereka; sebuah perjalanan panjang yang memotong dan melewati hamparan perbukitan yang masih sering memeluk kabut tipis di pagi hari. Sebuah lanskap asri yang ditumbuhi ilalang setinggi dada, yang letaknya, secara kebetulan atau mungkin campur tangan takdir, tak terlampau jauh dari bangunan sekolah dasar tempat Solana merajut ilmu.

Begitu peluh usai mengucur deras menembus kaus seragam, napas terengah-engah berebut oksigen, dan garis akhir akhirnya terlewati, rombongan siswa-siswi berseragam olahraga itu berbaris memanjang. Mereka berjalan menyeret kaki, menyusuri jalan aspal berbatu yang membelah bukit menuju deretan bus jemputan sekolah yang setia menanti di bawah sana, memuntahkan asap knalpot tipis ke udara.

Bumi, dengan rambut berantakan yang lepek oleh keringat dan napas yang masih memburu, tadinya melangkah riang. Ia berada di tengah-tengah rombongan, bersenda gurau dengan teman-teman sebayanya, menertawakan kawan yang sempat terpeleset lumpur, layaknya bocah laki-laki normal pada umumnya.

Namun, kewarasan dan realitasnya sebagai bagian dari kelompok itu mendadak kehilangan ritme.

Langkahnya melambat drastis. Telinganya tiba-tiba menuli pada tawa teman-temannya sesaat setelah siluet gerbang sebuah sekolah dasar perlahan mewujud dari kejauhan. Letaknya ada di persimpangan jalan menurun yang mereka lewati. Insting matanya, yang seolah telah dilengkapi radar tak kasatmata, secara otomatis menelusuri deretan huruf balok yang terukir di papan nama besi sekolah tersebut.

Benar. Itu wilayah kekuasaan Solana. Gadis yang baru ia kenal minggu lalu.

Jarum jam usang yang menempel berdebu di dinding pos satpam sekolah itu menegaskan bahwa ini adalah waktu istirahat pertama. Halaman tanah yang kering dan berdebu itu riuh, dipenuhi lautan anak-anak berseragam merah-putih yang berlarian ke segala penjuru seperti koloni semut pekerja. Pecahan tawa, teriakan tanpa makna, dan lengkingan riang mereka membumbung tinggi, merajai dan membelah udara siang itu.

Entah dorongan magis dari mana yang merasuki kakinya, Bumi membiarkan dirinya terlepas dari barisan rombongan SMP-nya bak kepingan debu yang tersapu angin. Ia sama sekali tidak meminta izin pada guru olahraga yang meniup peluit di depan barisan. Ia mengabaikan panggilan temannya dari belakang. Ia berbelok, melenceng dari jalurnya, dan menghampiri seorang bocah laki-laki berwajah cemong oleh debu yang tengah asyik menggigit cilok dari dalam plastik bening di balik pagar besi berkarat.

“Eh, Dek…” panggil Bumi pelan, jemarinya mencengkeram jeruji pagar.

Anak SD itu menoleh, sebelah pipinya menggembung penuh oleh makanan. Matanya menatap seragam olahraga SMP Bumi dengan sedikit waspada.

“Kamu tau anak kelas enam A yang namanya Solana, gak?” tanya Bumi. Suaranya terdengar biasa, namun ada urgensi yang disembunyikan di balik nada datarnya.

Anak itu menelan kunyahannya susah payah, mengangguk kecil. “Iya, tau, Bang. Kak Lana yang rambutnya dikuncir kuda, kan?”

“Iya. Orangnya di mana sekarang? Lagi jajan di kantin?”

Bocah itu menggeleng polos. Ia mengangkat tangan kecilnya yang berminyak dan berlumur saus kacang, menunjuk menembus kerumunan anak-anak, mengarah ke sebuah lorong sepi yang remang di dekat gedung belakang sekolah. “Lagi di UKS, Bang.”

“Loh, kenapa?” Alis Bumi bertaut rapat.

“Tadi kepalanya kena hantam bola voli waktu pelajaran olahraga.”

Dahi Bumi berkerut semakin dalam. Otak remajanya yang masih kelelahan sehabis lintas alam mencoba memproses informasi itu, namun tak segera menangkap seberapa parah situasinya. “Terus apanya yang sakit? Kepalanya benjol?”

Anak itu menatap Bumi dengan kepolosan yang kejam. “Pingsan, Bang.”

Deg.

Dunia di sekeliling Bumi mendadak senyap. Riuh rendah tawa anak-anak SD, peluit guru olahraganya sendiri, deru mesin bus, dan semilir angin perbukitan… semuanya lenyap dalam satu kedipan mata. Pompa jantungnya terasa terhenti berdetak untuk satu detik yang mematikan, sebelum akhirnya bergemuruh liar menghantam tulang rusuknya.

“…Pingsan?” ulang Bumi, suaranya nyaris menyerupai bisikan hampa yang tersapu angin. Mulutnya mendadak terasa kering kerontang. Sensasi dingin merayap naik dari ujung jari kakinya hingga ke tengkuk.

“Iya. Kesundul bola kenceng banget tadi pas passing. Langsung ambruk dia, Bang,” jawab anak itu dengan santai, tak menaruh beban simpati apa-apa sebelum berbalik dan kembali berlari menyusul teman-temannya yang asyik bermain gundu, meninggalkan sisa saus di udara.

Meninggalkan Bumi yang tubuhnya mematung sekeras batu pualam di balik pagar.

Di dalam kepalanya, tidak ada lagi deru angin, tidak ada lagi suara celoteh siswa yang lalu lalang. Otaknya, yang saat itu belum mengenal kompleksitas kedewasaan, hanya mampu mengulang satu konklusi tunggal yang terasa sangat mengerikan, bergema berulang-ulang seperti kaset rusak yang memekakkan telinga.

Solana pingsan.
Mataharinya meredup.

Dan di titik inilah, embrio dari insting pelindungnya yang gila mulai bermanifestasi ke permukaan. Ia tidak berpikir untuk mencari tahu lebih lanjut, ia tidak berpikir untuk mencari guru piket. Di kepalanya, keselamatan Solana berbanding lurus dengan keharusan presensi fisiknya sendiri.

Tanpa perlu diperintah dua kali oleh sisa kewarasannya yang telah menguap, kedua tangannya mencengkeram puncak pagar, dan kakinya telah bergerak menerobos masuk ke dalam zona asing tersebut.


Catatan:

Baca Garis Edar selengkapnya di Quarterfull dengan judul Garis Edar karya Shierolive:
👉 https://quarterfull.io/novel/QZOpnelY3jVaKBzy?qf_ref=6nrKDAM-SUmoH_AaQlhemiSTzTYXGZvsUqGH0p8jVGYR6g