Aku menulis ini dengan tangan terikat. Bukan perumpamaan. Ada sehelai kain lurik lebar dua jari yang melilit pergelangan kananku dan terikat pada kaki meja, dan aku mengetik dengan tangan kiri sedikit demi sedikit, huruf demi huruf, seperti orang yang belajar menulis di usia tua. Kalau kau membaca ini, kemungkinan aku sudah tidak perlu lagi diikat. Aku harap itu kabar baik. Aku sudah tidak yakin.
Sebelum semuanya kuceritakan, ada satu hal yang harus kau tahu, dan kau harus mengingatnya sampai akhir: jangan menggaruk. Aku tidak peduli betapa gatalnya, atau di mana. Jangan.
Hari Pertama
Aku tiba di Dukuh Kalimati pada Selasa sore, bulan Agustus, ketika kemarau sudah menguliti lereng-lereng di utara Wonosobo menjadi warna tembakau tua. Dari jalan raya aku masih harus naik ojek selama empat puluh menit melewati tanjakan berbatu. Tukang ojeknya, seorang lelaki kurus bernama Kasmin, tidak bicara sepatah kata pun sepanjang jalan. Ketika kutanya apakah dia orang Kalimati, ia menggeleng cepat, seakan pertanyaan itu menyinggung. Ia menurunkanku di gapura bambu yang sudah miring, menolak ongkos lebih, lalu memutar motornya dan pergi tanpa menengok.
Pekerjaanku sederhana. Aku juru ukur dari sebuah kantor konsultan di Bandung, ditugasi Dinas Pekerjaan Umum untuk memetakan topografi lembah kecil yang kelak, kalau anggaran turun, akan dijadikan waduk irigasi. Ada sebelas kepala keluarga di dasar lembah itu. Pemerintah sudah menyiapkan relokasi. Tugasku hanya mengukur: ketinggian, kemiringan, jejak aliran air, batas-batas tanah. Total station, prisma, rol meteran, dua tripod, dan satu laptop yang baterainya mulai sekarat. Dua belas hari, kata kontrak.
Dukuh itu terletak di dasar mangkuk. Bukit mengelilinginya di empat penjuru, dan kabut tipis sudah turun meski hari belum sore. Rumah-rumahnya beratap seng berkarat dan berdinding anyaman bambu yang dilabur kapur. Di antara rumah-rumah itu, sawah bertingkat-tingkat, kering dan pecah. Aku ingat berpikir, tanah ini haus. Kemudian aku sadar betapa anehnya pikiran itu.
Pak Sarwono, kepala dukuh, menyambutku di balai kecil. Usianya mungkin enam puluhan, tubuhnya liat, matanya tenang seperti orang yang sudah lama berhenti terkejut. Ia menyalamiku dengan dua tangan, dan saat itulah aku melihatnya untuk pertama kali: sehelai kain lurik kecil, lebar dua jari, melingkar longgar di pergelangan tangan kirinya, diikat simpul mati.
“Selamat datang, Mas Dimas,” katanya. “Mas menginap di rumah Bu Tarmi. Dia sudah menyiapkan kamar.”
Bu Tarmi perempuan paruh baya bertubuh kecil yang bergerak tanpa suara. Rumahnya bersih sampai terasa tidak wajar: lantai tanah yang dipadatkan, dipel dengan air daun sirih sehingga seluruh ruangan berbau pahit-segar. Ia menyuguhkan teh dan singkong rebus. Ketika ia meletakkan gelas di depanku, aku melihat kain lurik yang sama di pergelangannya.
Kemudian aku memperhatikan hal lain. Seekor nyamuk hinggap di punggung tangan Bu Tarmi. Ia melihatnya, dan tidak melakukan apa-apa. Nyamuk itu menusuk, menghisap, lalu terbang dengan perut merah. Tidak ada tepukan, tidak ada kibasan, bahkan tidak ada kedutan. Kulit di sekitar gigitan itu mulai menonjol merah, dan Bu Tarmi hanya memandangi benjolan itu dengan wajah datar, seperti memandangi cuaca.
“Gatal ya, Bu?” tanyaku, setengah bercanda.
Gelas teh di tangannya bergetar sedikit. “Dibiarkan saja, Nak. Nanti hilang sendiri.”
Malam itu, sebelum tidur, ia mengetuk pintu kamarku dan menyodorkan selembar lurik seperti yang dipakainya. “Untuk tidur,” ia berkata. “Diikat saja ke tiang dipan. Orang kota biasanya tidak tahan dingin di sini, jadi menggaruk dalam tidur.”
Aku tertawa dan berterima kasih, dan sesudah ia pergi aku menaruh kain itu di atas meja, tidak berniat memakainya. Dari balik dinding bambu, aku mendengar suara-suara kecil di rumah-rumah sebelah: gesekan kain, tarikan simpul, napas orang yang mengikat dirinya sendiri. Dukuh itu, kusadari, sedang mempersiapkan diri untuk tidur dengan cara yang tidak kuketahui. Aku berbaring dan menatap langit-langit anyaman, dan kupikir: adat setempat. Kau selalu bisa menamai keanehan dengan kata sederhana. Itulah cara kita bertahan.
Hari Kedua
Pukul tujuh pagi aku sudah di sawah paling atas, menegakkan tripod. Kabut belum naik, jadi pandanganku terbatas, tapi alat ukurku tidak memerlukan mata. Total station mengirim sinar inframerah ke prisma yang kubawa berpindah-pindah, mencatat jarak dan sudut. Pekerjaan ini membosankan dan menenangkan. Aku sudah melakukannya di seratus lembah lain.
Tapi angka-angka di layar mulai mengganggu.
Aku mengukur titik yang sama tiga kali dan mendapat tiga ketinggian: 1.214,31 meter, 1.214,34 meter, 1.214,29 meter. Selisih beberapa sentimeter tidak aneh bagi alat yang terganggu embun. Namun selisih itu tidak acak. Ketika kuperiksa catatanku, pola naik-turunnya teratur, seperti denyut. Seperti napas. Aku mengganti baterai, mengkalibrasi ulang, menggeser tripod ke tanah yang lebih keras. Hasilnya sama. Permukaan lembah itu, kalau aku bisa mempercayai alatku, naik dan turun beberapa sentimeter setiap lima belas menit, dengan ritme yang sabar.
Aku menulis di buku lapanganku: anomali instrumen, cek ulang. Lalu aku menggaruk tengkukku.
Aku tidak sadar aku melakukannya. Rasa gatal itu datang tiba-tiba, tajam dan spesifik, seperti ada sehelai rambut basah yang menempel di kulit di bawah kerah. Kukuku menyentuhnya dan menggores dua tiga kali, dan rasa lega yang menyusul begitu nikmat sampai aku memejamkan mata.
“Jangan, Mas.”
Pak Sarwono berdiri sepuluh langkah dariku. Aku tidak mendengarnya mendekat. Wajahnya tidak lagi tenang. Dalam sepersekian detik itu, aku melihat sesuatu yang lama kuingat: bukan marah, melainkan duka, seperti wajah orang yang menyaksikan anak kecil menyentuh kompor yang sudah menyala.
“Maaf, Pak?”
“Mas menggaruk.” Suaranya sangat pelan. “Sejak kapan?”
“Baru saja. Cuma gatal biasa, Pak. Mungkin gigitan serangga.”
Pak Sarwono menarik napas panjang, lalu duduk di pematang sawah yang retak dan menepuk tanah di sampingnya. Aku duduk. Dari ketinggian itu, dukuh tampak seperti mainan yang tertinggal di dasar baskom, dan kabut perlahan menutupinya dari tepi.
“Mas,” katanya, “di tempat lain, gatal itu penyakit. Di sini bukan.”
“Lalu apa?”
“Panggilan.” Ia memandangi lurik di pergelangannya. “Gatal itu panggilan nama. Dan yang menjawab panggilan, Mas, sudah menyahut. Setelah itu sulit untuk berpura-pura tidak mendengar.”
Aku tersenyum sopan, seperti orang kota yang menghormati kepercayaan orang desa. Kupikir aku sedang dituntun ke sebuah legenda lokal yang lazim: danyang penunggu lembah, pantangan yang diwariskan, kain pengikat untuk menolak bala. Kucatat dalam hati untuk menceritakannya pada teman-teman di kantor sebagai bahan obrolan.
“Jangan digaruk lagi,” ujar Pak Sarwono. “Malam ini ikat tangan Mas. Tolong. Saya tidak minta banyak.”
Tengkukku masih terasa panas di bawah bekas kukuku. Dan di bawah panas itu, aku merasakan sesuatu yang lain. Bukan gatal lagi. Lebih seperti sentuhan: sangat ringan, sangat hati-hati, seperti ujung jari seseorang yang meraba untuk memastikan aku nyata.
Hari Ketiga
Kalau aku punya kebiasaan buruk, itu adalah rasa ingin tahuku. Pagi ketiga, alih-alih menyalakan alat ukur, aku berjalan keliling dukuh dengan dalih mencatat batas-batas tanah. Sebenarnya aku mencari tahu.
Aku melihat anak-anak yang bermain tanpa tertawa keras. Mereka berlari, melompat, bergulat, tapi dalam semua permainan itu tangan mereka selalu terkepal. Mereka tahu cara meraih tanpa membuka jari. Aku melihat bocah lelaki sekitar sepuluh tahun, Wawan namanya, duduk menggosok-gosokkan punggungnya ke tiang rumah dengan wajah berpeluh, bukan menggaruk, hanya menahan. Di lengan kirinya, di bawah kain lurik, ada garis-garis tipis memanjang, bekas luka yang sudah lama mengering dan berwarna putih.
“Itu kenapa, Wan?” tanyaku.
“Dulu Wawan menggaruk,” jawabnya polos. “Waktu kecil. Sebelum tahu.”
“Sebelum tahu apa?”
Ia menggeleng dan lari.
Aku melihat orang-orang tua dengan kulit yang aneh. Bukan kulit keriput orang desa yang terbakar matahari seumur hidup, melainkan kulit yang terlalu halus. Terlalu licin, seperti lilin, seperti kulit yang tidak pernah disentuh kuku sepanjang tujuh puluh tahun. Di mana-mana ada kain lurik, di pergelangan tangan, di pergelangan kaki, bahkan pada beberapa orang, melingkar di leher dan tersembunyi di balik kerah.
Siang hari aku sampai di sebuah gubuk di tepi dukuh, tempat seorang lelaki buta bernama Karto duduk di bale-bale. Kata Bu Tarmi, Mbah Karto orang tertua di Kalimati. Usianya tidak ada yang tahu, dan menurut desas-desus tidak pernah terikat. Ketika aku berdiri di ambang pintu, bahkan sebelum aku bersuara, ia berkata:
“Orang kota. Yang menggaruk di sawah atas.”
Bulu kudukku berdiri. “Dari mana Mbah tahu?”
“Baunya.” Ia menyeringai, memperlihatkan gusi tanpa gigi. “Kulit yang sudah dijawab punya bau lain. Seperti tanah sehabis hujan pertama. Mari, Nak. Duduk dekat-dekat. Mbah ingin pegang.”
Aku seharusnya pergi. Tapi aku duduk. Tangan keriputnya meraba wajahku, turun ke leher, berhenti di tengkuk. Jarinya menyentuh tepat di tempat aku menggaruk dua hari lalu, dan ia mendesis seperti orang yang menyentuh air terlalu dingin.
“Cepat,” gumamnya. “Cepat sekali. Biasanya butuh bertahun-tahun untuk sampai sejauh ini.”
“Sejauh apa, Mbah?”
Ia tidak menjawab. Ia hanya mengusap tengkukku sekali lagi dengan penuh iba, seperti mengusap kepala anak yang akan dikirim jauh. “Malam ini diikat ya, Nak. Dua tangan. Jangan percaya pada dirimu sendiri setelah gelap.”
Hari Keempat
Malam itu aku tidak mengikat tanganku. Aku memutuskan itu ketakhayulan yang berlebihan, dan aku tidur dengan lengan terbuka, di bawah selimut tipis yang tidak menghangatkan apa-apa.
Pagi harinya, aku terbangun di atas seprai yang berbintik darah.
Bukan banyak. Hanya titik-titik kecil, garis-garis tipis, di sekitar tempat tidurku. Kulihat lengan kiriku dan menemukan puluhan goresan memanjang, dangkal tapi rapat, dari pergelangan hingga siku. Kukuku kotor oleh serpih kulit. Aku tidak ingat melakukannya. Aku hanya ingat bermimpi: sebuah mimpi yang sangat jelas dan tidak berwarna, di mana aku melayang di atas lembah ini dan melihat setiap lekuknya, setiap parit, setiap pematang, seakan-akan lembah itu sendiri yang menunjukkannya padaku.
Aku duduk lama di pinggir dipan, menatap goresan-goresan itu. Ada sesuatu yang mengusik, sesuatu yang bukan sekadar ngeri. Sesuatu yang berhubungan dengan profesiku.
Aku mengambil ponsel dan memotret lenganku dari jarak dekat. Lalu kubuka laptop, memanggil data ukuran dua hari terakhir, dan membuat model kontur sementara: garis-garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama, interval lima meter, seperti yang dicetak di setiap peta topografi di dunia.
Aku menumpangkan foto lenganku di atas model itu. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang kurasakan ketika garis-garis di lenganku dan garis-garis di layar bertemu.
Mereka cocok.
Bukan hampir cocok. Bukan mirip. Goresan-goresan kuku di lenganku, yang kubuat dalam tidur dengan jari-jari yang tidak sadar, adalah kontur lembah Kalimati dengan interval lima meter, lengkap dengan lekukan parit di sisi timur, punggung bukit di utara, dan cekungan sawah di tengah. Bahkan titik di sawah atas tempat aku menggaruk tengkuk muncul sebagai lingkaran kecil di dekat siku, lebih kecil dari uang logam, persis di posisi yang benar secara skala.
Secara logika ada dua kemungkinan. Pertama, aku tidur sambil berjalan, mengukur dalam kepalaku, dan menggambar tanpa sadar. Kemungkinan itu tidak masuk akal, sebab aku bahkan belum selesai mengukur sisi barat, namun garis-garis di lenganku sudah mencakup sisi barat itu, lengkap, dengan detail yang belum pernah kucatat.
Kemungkinan kedua, yang tidak mau kuperiksa, adalah bahwa sesuatu menggunakan tanganku untuk menggambar sesuatu yang ia kenal.
Aku mengikat kedua tanganku malam itu. Aku mengikatnya sendiri, dengan simpul yang kupelajari dari video, dan aku menangis sedikit karena malu, karena takut, dan karena di tengah ketakutan itu, anehnya, aku merasakan sesuatu seperti rasa terima kasih. Aku berterima kasih pada kain lurik itu. Seperti anak yang berterima kasih pada pagar tepi jurang.
Hari Kelima
Gatal itu tidak lagi muncul di satu tempat. Ia berkelana.
Pagi hari ia ada di punggung tangan. Siang di belakang lutut. Sore di telapak kaki, di tempat yang bahkan kau tidak tahu bisa gatal. Tidak ada bentol, tidak ada ruam, tidak ada tanda yang bisa kutunjukkan pada dokter. Hanya gatal, sangat spesifik dan sangat nyata, seperti sebuah jari kecil yang bergerak dari satu titik ke titik lain di bawah kulitku, berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
Aku mulai mengenali cara kerjanya. Gatal tidak muncul sembarang. Ia muncul ketika aku memandang bagian lembah tertentu. Ketika aku menatap punggung bukit utara, tengkukku menggeliat. Ketika aku memandang sawah-sawah di tengah, perutku terasa digelitik dari dalam. Seolah tubuhku adalah kertas kalkir yang ditaruh di atas peta, dan sesuatu di bawah sana menelusuri garis-garisnya dengan pensil yang sangat tumpul.
Siang itu aku kembali ke gubuk Mbah Karto. Kali ini aku membawa kopi dan rokok kretek, dan tidak ada lagi sikap hormat yang pura-pura. Aku bertanya langsung, dan Mbah Karto, yang tampaknya sudah menunggu, menjawab tanpa basa-basi.
“Yang di bawah itu tidak punya mata,” katanya, menghirup asap dalam-dalam. “Tidak punya mulut. Tidak punya otak seperti kita. Mbah sudah tujuh puluh tahun hidup di atasnya dan Mbah tidak pernah tahu bentuknya. Yang Mbah tahu hanya: ia punya kulit, dan ia punya akar. Akar-akarnya halus, lebih halus dari rambut. Ia tumbuh di bawah semua tanah ini, di bawah rumah, di bawah kuburan, di bawah kau.”
“Dan gatal?”
“Itu ia sedang meraba.” Mbah Karto mengangkat jarinya yang kisut dan menyentuh udara pelan-pelan, seperti pemain kecapi. “Ia belajar bentuk dari apa yang disentuhnya. Orang-orang di sini, sudah dari zaman kakek Mbah, dirabanya setiap malam. Tapi kami tidak menjawab. Kami diikat. Kalau tidak dijawab, ia tidak tahu bentuknya. Kalau tidak tahu bentuknya, ia tidak bisa bangun.”
“Bangun?”
Mbah Karto tidak menjawab. Ia mengisap kreteknya lagi, kemudian berkata dengan nada yang jauh lebih tua dari suaranya:
“Yang menggaruk, menggambar. Yang digambar, dikenal. Yang dikenal, dipanggil pulang.”
Aku bertanya apa maksud “pulang”, dan ia hanya tersenyum sedih. Di luar, kabut sudah naik dan menutup jendela gubuk dengan putih, dan untuk pertama kali sejak kedatanganku aku merasa bahwa lembah itu bukan tempat yang kudatangi. Lembah itu sesuatu yang membuka mulutnya, dan aku sudah berjalan masuk tanpa curiga sambil membawa tripod.
Hari Keenam
Aku mencoba pergi.
Pagi-pagi sekali, aku mengemasi alat, mengangkat tas, dan berjalan ke gapura bambu. Kasmin, tukang ojek itu, tidak datang. Aku berjalan kaki ke jalan raya, turun lewat jalur batu yang kuingat dari hari pertama. Tiga puluh menit pertama berjalan lancar. Setelah itu, jalan setapak itu menikung dan bertemu kembali dengan gapura bambu yang sama, miring, di depan dukuh.
Aku mencoba lagi. Jalur lain, arah lain. Hasilnya sama. Kabut tebal bukan hanya menutup pandangan, ia seakan melipat jalan. Setelah lingkaran ketiga, tengkukku terasa begitu panas dan gatal sampai aku jatuh berlutut di tanah. Rasanya bukan sakit. Rasanya seperti ditegur oleh sesuatu yang tidak marah, hanya kecewa.
Pak Sarwono menemukanku di gapura menjelang siang, bersimpuh dengan kedua tangan mencengkeram tanah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia berlutut, melepaskan lurik dari pergelangannya sendiri, dan melilitkannya ke tanganku di atas simpul yang kubuat semalam. Wajahnya sedih, tapi tidak terkejut.
“Tidak ada yang pergi dari Kalimati, Mas,” katanya lembut. “Ada yang mencoba. Anak Bu Tarmi, Danu, pergi ke Jakarta lima belas tahun lalu. Dia pulang tahun lalu.”
“Pulang?”
“Dalam peti.” Pak Sarwono memandangi tanganku. “Waktu dimandikan, kulitnya penuh garis. Garis kontur, Mas, kata Mas tadi. Garis seperti lembah ini. Tapi lebih banyak. Lebih rinci. Seperti ia sudah ditulisi seluruhnya, dari ujung rambut sampai kaki, dan hanya tinggal satu tempat di punggung yang kosong.”
Aku terdiam lama sekali.
“Yang meninggalkan lembah,” kata Pak Sarwono, “gatalnya ikut. Dan gatalnya tidak berhenti. Orang di sini tidak ditahan, Mas. Kami dijaga. Yang diikat itu bukan hanya tangan. Yang diikat itu juga yang di bawah.”
Aku ingin menjawab bahwa itu mustahil. Aku ingin mengatakan bahwa ada penjelasan medis, penjelasan psikologis, penjelasan apa pun yang tidak melibatkan sesuatu yang meraba di bawah tanah. Tapi aku merasakan satu jari tak terlihat bergerak di punggung tanganku, menuruni jemariku, berhenti di kuku. Seperti ia mengangguk. Seperti ia berkata: kamu sudah paham.
Hari Ketujuh
Aku tidak tidur malam itu, dan itu kesalahan terbesarku.
Orang yang tidak tidur akan kehilangan penjagaan. Menjelang subuh, di antara kantuk dan terjaga, aku merasakan gatal itu bergerak ke dalam. Bukan lagi di permukaan kulit, tapi di bawahnya, di otot, kemudian di tulang. Seperti ada sesuatu yang menjalar di sepanjang tulang keringku dengan kehati-hatian seorang pematung yang meraba balok batu sebelum memahat.
Aku berdiri di depan cermin kecil di kamar Bu Tarmi dan menyingkap kerah bajuku. Di tengkuk, kulitku bergerak.
Bukan berdenyut. Bukan kejang. Kulit itu bergerak seperti permukaan air ketika ada ikan kecil lewat di bawahnya: tonjolan tipis, memanjang, berpindah, hilang, muncul lagi dua sentimeter ke kiri. Aku menekan dengan telunjuk dan merasakan sesuatu yang sangat halus melarikan diri dari tekanan jariku. Lebih halus dari rambut. Lebih halus dari benang laba-laba. Dan banyak.
Aku jatuh terduduk di lantai tanah yang berbau sirih. Tanganku, yang terikat kain, bergetar begitu hebat sampai simpul di pergelangan berderak. Aku ingin menjerit, tapi dari seluruh gelombang paniknya, satu pikiran jernih muncul, dingin seperti pecahan es: aku tidak mau pulang ke tempat ini sebagai peti.
Pagi itu aku menelepon kantorku dari satu-satunya titik di dukuh yang punya sinyal, di atas batu besar di pinggir sawah atas. Atasanku, Pak Hendra, bicara dengan nada yang biasa dipakai orang pada karyawan yang terlalu lama bekerja di lapangan.
“Dimas, kau kurang tidur. Selesaikan pengukurannya. Dinas butuh laporannya akhir bulan.”
“Pak, ada yang tidak beres di sini. Saya mau pulang dulu.”
“Pulang setelah pengukuran selesai. Kontrak tidak membolehkan penghentian di tengah. Dinas sudah menunggu peta kontur itu untuk menetapkan batas genangan.” Ia berhenti sebentar. “Lagi pula, kau sendiri yang bilang lembah itu kecil. Apa susahnya?”
Aku memandangi lembah di bawahku, dengan sebelas rumah, sawah bertingkat, dan kabut yang merayap seperti ujung selimut. Dan tiba-tiba aku mengerti satu hal yang membuat darahku membeku: mereka ingin peta ini. Bukan hanya Dinas. Sesuatu di bawah sana juga menginginkannya. Aku sudah berada di antara dua permintaan yang sama, dan satu-satunya yang berbeda adalah siapa yang meminta.
Hari Kedelapan
Di hari kedelapan aku berhenti memperlakukan Kalimati sebagai tempat.
Aku mulai memperlakukannya sebagai tubuh.
Setiap pagi aku berjalan di antara rumah-rumah, dan sekarang aku melihat hal-hal yang sebelumnya luput. Rumah-rumah itu tidak tersebar acak. Mereka tersusun mengikuti kontur yang sama dengan garis di lenganku. Sawah-sawah bertingkat itu ternyata bukan hasil kerja nenek moyang yang ingin menanam padi. Itu garis-garis. Semua terasering di lembah ini, kalau dilihat dari atas, adalah jejak seorang tangan raksasa yang menggores bumi dengan kuku yang tumpul. Dan manusia yang tinggal di sana selama ratusan tahun telah merapikan guratan itu, memperdalamnya, mencangkulinya, menyebut kerja itu bertani.
Aku bertanya pada Bu Tarmi apakah ia pernah ingin pergi.
Ia sedang memarut kelapa. Tangannya berhenti. Lama sekali ia tidak menjawab, dan ketika akhirnya bicara, ia tidak menoleh.
“Danu pergi karena Ibu yang suruh,” katanya. “Ibu bilang pergi, Le, cari hidup. Jangan mati di lembah ini seperti bapakmu. Dia pergi dengan tangan terikat. Ibu sendiri yang mengikatnya. Di terminal Wonosobo, dia melepasnya, karena malu dilihat orang kota.” Parutan di tangannya bergerak lagi, kasar, berderak. “Lima belas tahun. Tiap bulan dia kirim uang. Tiap bulan Ibu tanya apakah dia diikat. Dia selalu bilang iya, Bu, diikat. Padahal tidak.”
“Bu…”
“Waktu pulang, dia tersenyum. Bibirnya melengkung seperti orang tidur nyenyak. Seluruh tubuhnya halus seperti kulit bayi, Nak. Kecuali satu bagian di punggung, yang kosong.” Bu Tarmi menunduk. “Yang bikin Ibu takut bukan itu. Yang bikin Ibu takut, wajah anak Ibu begitu tenang. Setelah lima belas tahun, ia akhirnya pulang dan akhirnya tidak gatal.”
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku hanya duduk di sampingnya, dan setelah beberapa lama aku mengambil sebagian kelapa dan ikut memarut. Kami bekerja dalam diam, dua orang yang sama-sama tahu sesuatu yang tidak bisa dibagi.
Hari Kesembilan
Pak Sarwono datang ke penginapan sebelum fajar. Ia membawa lampu minyak dan wajah orang yang tidak tidur berhari-hari. Ia duduk di lantai, menunggu sampai aku bangun, dan ketika aku membuka mata ia sudah bicara.
“Mas sudah hampir selesai mengukur?”
“Tinggal bukit utara, Pak. Dan sisi barat yang belum.”
“Jangan ukur bukit utara.”
Aku bangkit duduk. Lampu minyak melemparkan bayang-bayang panjang ke dinding anyaman, dan wajah Pak Sarwono tampak sangat tua. “Pak, saya terikat kontrak. Dan…”
“Mas, dengarkan.” Ia menahan lenganku. “Mbah Karto sudah cerita sebagian. Sekarang saya ceritakan sisanya. Bagian yang tidak ia ceritakan karena ia sendiri tidak mengerti sepenuhnya. Tapi saya mengerti, sebab saya sudah memikirkannya selama empat puluh tahun.”
Aku menunggu.
“Gatal tidak berbahaya,” kata Pak Sarwono. “Yang berbahaya adalah ia tahu bentuknya sendiri. Ia tidak punya mata, Mas. Ia tidak pernah melihat dirinya. Ia hanya meraba kami, selalu dari bawah. Kami adalah satu-satunya cara ia mengenal seperti apa tubuhnya di atas tanah: lembah, bukit, sungai. Setiap orang yang menggaruk menggambar satu potongan kecil dari dirinya. Lalu ia belajar. Lalu ia ingat. Dan kalau cukup banyak potongan terkumpul…” Ia mengangkat tangan, tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Ia bangun,” bisikku.
“Ia bangun dan ia mengerti ia sedang berbaring di dasar sebuah lembah yang kecil, dengan sebelas rumah di atasnya, dan ia lapar akan ruang.” Wajah Pak Sarwono menegang. “Selama dua ratus tahun kami menjaga supaya potongan-potongan itu tidak pernah lengkap. Sedikit demi sedikit orang menggaruk, dan sedikit demi sedikit kami menghapusnya, dengan ikatan, dengan doa, dengan kematian. Tapi Mas orang pertama yang datang dengan alat yang membuat gambar itu cepat.”
“Alat ukur,” kataku. Mulutku kering.
“Peta itu tulisan, Mas. Kertas dan layar bisa menulis seperti kulit. Yang di bawah mengerti itu. Ia melihat tanganmu menggaruk dan tangan itu juga menggambar dengan alat, dan ia belajar dua cara sekaligus. Mas sudah menulis dirinya di kulit Mas. Jangan menulis lagi di kertas.”
Aku ingin marah. Aku ingin mengatakan bahwa dia menuduhku bersekongkol dengan sesuatu yang bahkan tidak kupercayai, bahwa dia menghalangi pekerjaanku, bahwa seluruh ini adalah sandiwara yang rumit untuk menggagalkan proyek waduk dan menjaga tanah mereka. Tapi aku melihat tangan Pak Sarwono, tangan yang terikat selama empat puluh tahun, dan aku melihat sesuatu yang membuatku kehilangan kata. Kulit di punggung tangannya tidak hanya halus. Di bawah lampu minyak, ada guratan sangat tipis, sangat rapat, hampir tidak terlihat, seperti ukiran pada permukaan gading.
Ia mengikuti pandanganku dan tersenyum lemah. “Ya. Saya juga sudah hampir penuh, Mas. Hanya saya yang tidak lagi gatal. Bertahun-tahun saya tidak gatal. Dan itu yang paling buruk dari semuanya.”
Hari Kesepuluh
Malam kesepuluh adalah malam di mana aku kehilangan diriku sendiri.
Aku tidur dengan tangan terikat, dan dalam tidur itu aku bermimpi lagi. Tetapi kali ini aku tidak melayang di atas lembah. Aku berjalan, dengan kaki telanjang di tanah dingin, dan di sekelilingku orang-orang berdiri dalam satu lingkaran besar di tengah sawah. Mereka diam dan menunduk. Tangan mereka terikat di depan tubuh seperti orang yang berdoa. Aku mengenali Bu Tarmi, Pak Sarwono, Wawan, Mbah Karto yang buta tapi mendongak ke arahku. Di tengah lingkaran, tanah bergerak.
Aku terbangun, dan aku tidak berada di tempat tidur.
Aku berdiri di sawah paling bawah, tepat di tengah lembah, di bawah langit hitam bertabur bintang yang kelihatan terlalu dekat. Kakiku penuh lumpur kering. Kabut telah hilang untuk pertama kalinya, dan di kejauhan, di tepi sawah, aku melihat mereka: semua penduduk Kalimati, sebelas keluarga, lebih dari empat puluh jiwa, berdiri dalam lingkaran besar persis seperti dalam mimpiku. Mereka tidak bergerak. Mereka tidak bicara. Mereka hanya menunggu.
Tanganku bebas. Kain lurik itu tergeletak di dekat kakiku, simpulnya terurai rapi, tidak terputus. Seperti ada yang membukanya dengan sabar.
Dan tanganku bergerak sendiri.
Aku melihat jari-jariku melengkung seperti cakar dan mulai menggaruk lenganku, perutku, dadaku, dengan gerakan teratur, tidak panik, tidak buas. Seperti seorang seniman yang akhirnya mendapat kanvas. Kukuku merobek kulit dan darah mengalir hangat, tapi tidak sakit. Rasanya lega. Rasanya seperti pulang. Aku menangis sambil menggaruk, dan aku mendengar suara napas yang bukan napasku, begitu dalam, begitu dekat, datang dari bawah telapak kakiku.
Tanah di sekitar kakiku merekah halus. Dari retakan-retakan itu, dengan kecepatan yang sangat lambat, muncul ribuan benang putih setipis rambut. Mereka menjulur ke atas, menyentuh pergelangan kakiku, merayap ke betis. Dan aku mengerti: ini bukan gatal lagi. Ini sentuhan. Tubuh di bawah tanah itu tidak lagi meraba. Ia sedang membaca.
Sebelum aku sempat jatuh seluruhnya ke dalam kenikmatan yang menjijikkan itu, seseorang menabrakku dari samping. Mbah Karto. Lelaki buta itu, dengan kekuatan yang tak kuduga, menjatuhkan tubuhku ke lumpur, melilitkan kain lurik ke kedua tanganku dengan jari-jari kasar yang tahu persis di mana simpul harus dibuat, dan berbisik dengan suara yang pecah:
“Tahan, Nak. Tahan. Hitung sampai seratus. Hitung sampai seratus sebelum kau berani bergerak.”
Aku menghitung. Aku menghitung dengan wajah di lumpur dan benang-benang halus menggeliat di pergelangan kakiku, dan di antara satu dan seratus aku mendengar seluruh lembah mendesah. Bukan marah. Kecewa. Seperti anak yang ditarik dari permainan terakhirnya.
Benang-benang itu surut perlahan. Ketika angka sembilan puluh sembilan terucap, tanah sudah menutup kembali seakan tidak pernah terbuka.
Hari Kesebelas
Aku sudah kehabisan alasan untuk tidak percaya.
Pak Sarwono memandikan lukaku dengan air daun sirih dan membalutnya. Tidak ada yang bicara banyak. Di kejauhan, Wawan menyaksikan dari pintu dengan mata bundar. Kali ini ia tidak lari.
“Mas sudah menggambar hampir semuanya,” kata Pak Sarwono pelan sambil membalut dadaku. “Lengan, perut, dada. Hanya tinggal satu tempat.”
“Punggung,” kataku. Aku tahu tanpa perlu diberitahu.
“Tempat yang tidak bisa dijangkau tangan sendiri. Itu sebabnya orang-orang yang pergi jauh dan pulang dalam peti selalu kosong di punggung mereka.” Ia berhenti. “Yang di bawah tidak butuh kita menggambarnya sendiri, Mas. Ia cuma butuh kita membawanya sampai ke tempat yang bisa dijangkau tangan orang lain.”
Aku menatapnya dalam-dalam. Dan di sana, di balik matanya yang tenang, aku melihat semuanya dengan jelas untuk pertama kalinya. Mengapa Pak Sarwono tidak melarangku bekerja. Mengapa Kasmin tidak mau mengantarku keluar. Mengapa jalan melipat setiap kali aku mencoba pergi.
Kalimati tidak menahanku. Kalimati menunggu aku menyelesaikan pekerjaanku.
“Pak,” aku berkata, dan suaraku terdengar jauh. “Kalau saya selesai mengukur bukit utara, apa yang terjadi?”
“Bukit utara itu kepalanya, Mas,” jawab Pak Sarwono. “Lembah ini badannya. Kalau Mas ukur kepalanya, peta itu lengkap. Ia akan tahu seluruh bentuk dirinya dari ujung ke ujung. Dan Mas akan membawa peta itu ke Bandung, ke kantor, ke Dinas, ke komputer-komputer, ke ribuan orang yang akan membukanya, melihatnya, mencetaknya, menyalinnya.” Ia memejamkan mata. “Ia tidak bisa keluar dari lembah ini sendiri. Tapi peta bisa.”
Hari Kedua Belas
Aku tidak mengukur bukit utara.
Aku ingin menulis bahwa itu keputusan heroik, tapi sebenarnya hari terakhir itu aku hanya duduk di sawah atas sampai matahari tenggelam, dengan tripod terlipat di sampingku, dan menatap bukit itu. Dari kejauhan ia tampak biasa saja: lereng kering ditumbuhi alang-alang, beberapa pohon randu tinggi, batu-batu kelabu. Tengkukku menggeliat setiap kali pandanganku menyentuhnya. Di punggungku, di titik yang tak terjangkau, kurasakan gatal paling dalam yang pernah kualami, begitu lembut dan memohon, seperti jari kecil yang mengetuk dari dalam.
Sebelum gelap, Kasmin datang. Ia berdiri di gapura bambu dengan motornya yang menyala, wajahnya gelisah. Aku tidak tahu apa yang membuatnya mengubah pikiran. Mungkin Pak Sarwono memanggilnya. Mungkin ia sendiri yang akhirnya tahan melihat orang kota yang naik tanpa tahu apa-apa.
“Naik, Mas,” katanya. “Cepat. Sebelum kabut.”
Aku berpamitan singkat pada Bu Tarmi, yang memelukku tanpa kata dan menyelipkan seikat kain lurik ke dalam tasku. Pak Sarwono menyalamiku dengan dua tangan, seperti hari pertama. Dari balik pintu gubuknya, Mbah Karto mengangkat satu tangan kisutnya dalam gerakan yang mungkin salam, mungkin doa.
Aku turun dari Kalimati pada malam hari, dan jalan itu tidak melipat.
Catatan Tambahan
Sekarang aku di Bandung.
Laporanku sampai ke Pak Hendra sepuluh hari setelah itu. Peta kontur lembah Kalimati yang lengkap, kecuali satu bagian: bukit utara kutinggalkan kosong, dengan keterangan akses terganggu, data tidak tersedia. Pak Hendra mengomel, tapi menerimanya. Dinas, katanya, akan mengirim tim lain untuk menyelesaikan sisanya dengan citra drone. Aku mencoba berkata jangan. Aku mencoba menjelaskan. Aku mengatakan terlalu banyak, dan ia memandangiki dengan tatapan orang yang sedang mempertimbangkan cuti sakit.
Selama tujuh minggu setelah itu aku tidak menggaruk sekali pun. Aku mengikat tanganku setiap malam dan meminta pemilik kos membangunkanku setiap pagi untuk memeriksa apakah simpulnya masih utuh. Gatal itu perlahan mengendur. Hari demi hari ia mundur, dari tulang ke otot, dari otot ke kulit, dari kulit ke tengkuk, dari tengkuk ke sebuah titik kecil di punggung bawah yang tidak pernah bisa kujangkau. Pada minggu kedelapan, aku bangun dan, untuk pertama kali sejak Kalimati, tidak merasakan apa-apa.
Aku menangis dari lega. Aku mengira aku sudah bebas.
Baru pagi tadi aku mengerti bahwa itu bukan kebebasan. Itu keheningan yang sama yang kulihat di wajah Pak Sarwono. Gatal tidak pergi karena aku menang. Gatal pergi karena ia sudah tidak butuh aku lagi.
Tim Dinas yang baru berhasil mengukur bukit utara dengan drone pekan lalu. Pak Hendra mengabariku lewat pesan singkat dengan nada gembira: peta final sudah lengkap, sudah dikirim ke tiga kantor, sudah dicetak dua ratus rangkap untuk rapat koordinasi minggu depan. Ada lampiran PDF. Aku tidak membukanya. Aku tidak perlu. Aku sudah merasakan lembah itu menarik napas panjang melalui seluruh jaringan listrik kota ini, melalui kabel-kabel dan layar-layar yang membawa gambarnya ke mana-mana.
Sekarang pukul dua dini hari. Aku menulis ini dengan tangan kiri karena tangan kananku terikat pada kaki meja, sebagaimana kuceritakan di awal. Dan dari kamar sebelah, tipis di balik dinding triplek kos, aku mendengar sesuatu yang sudah kutunggu-tunggu dengan ketakutan sejak pagi.
Suara kuku di kulit. Kresek. Kresek. Kresek. Pelan, teratur, tanpa tergesa.
Lalu dari lantai atas. Lalu dari seberang lorong. Lalu dari bawah, dari kamar ibu kos yang sudah tua, dari jalan di luar, dari rumah-rumah tetangga di balik gang. Satu per satu, seperti lampu yang dinyalakan dalam barisan panjang di sebuah kota yang akhirnya bangun, kudengar mereka menggaruk, dan semua kuku itu bergerak dengan irama yang sama, irama sabar dari sesuatu yang akhirnya tahu seperti apa bentuknya.
Aku mengencangkan ikatan di pergelangan tanganku. Aku tidak yakin lagi apakah itu menolong. Karena sekarang aku mengerti sesuatu yang tidak dikatakan Pak Sarwono, sesuatu yang mungkin sudah ia tahu tapi tidak sanggup ia ucapkan: gatal tidak lagi berada di tubuhku. Ia ada di peta. Dan petaku sudah dibaca oleh begitu banyak orang.
Kalau kau sedang membaca ini, dan tengkukmu mulai terasa panas, dan ada sentuhan sangat ringan di kulitmu yang bukan tanganmu sendiri, jangan menjawabnya.
Aku mohon.
Jangan menggaruk.