Menyemai Cinta di Musim Semi

abu-abu yang hinggap di pundakmu

Posted by Linda Shierly on June 22, 2021

Tidak ada yang bisa berubah dan mengubah apapun tentang perasaanku padanya. Bagiku, semua masih seperti sedia kala, dan bahkan jauh lebih lekat, lebih erat dari apapun yang bisa dibayangkan. Dan pekatnya perasaanku untuknya, aku takkan pernah bisa menghentikan itu. Tidak bisa, dan tidak akan.

“Alena…”

Lirih suaranya membuyarkan imajinasiku tentang banyaknya potongan kenangan kita yang kini telah berserakan. Potongan-potongan kenangan manis yang terus terbawa arus dan kemudian perlahan berubah warna; didominasi abu. Kenangan yang kulihat begitu menyenangkan, nyatanya berbeda di matanya. Pada kenyataannya, warna putih dan merah jambu yang membingkai kenangan itu, tak terlihat olehnya. Pahitnya, semua warna pastel menyenangkan ditelan hitam pekat dan berubah seutuhnya menjadi kenangan menyedihkan baginya… tentang aku.

“Kau tahu ini juga sulit untukku, kan? Kalau saja bisa memilih, aku pasti akan menemukan jalan yang lain. Sayangnya, aku tidak bisa. Seandainya kau bisa memahamiku kali ini saja. Kumohon, Al. Kamu tahu perasaanku. Kamu yang paling tahu. Alena… Maafkan aku.”

Aku diam lagi. Tidak bersuara, tidak bergeming sedikitpun. Tapi jangan kau tanya berapa derasnya air mata yang turun menghujani wajahku. Aku tidak bisa membendungnya, bagiku, apapun yang pernah melintas di antara kita, aku selalu baik-baik saja. Tapi kali ini tidak, kali ini sepertinya kita sudah sampai di penghujung cerita. Cerita yang pada mulanya kita janjikan akan menjadi kisah kasih penuh cinta yang sempurna. Ternyata, kita hanya bisa berencana. Toh sekarang, ini hampir selesai. Dan ending yang kita harapkan bahagia, berakhir jadi duka. Aku, sekarang benar-benar kehilangannya.

“Papa!”

Seru seseorang, mengejutkan pria di hadapanku ini. Segera ia menghapus tangis kecilnya, kemudian sebuah senyum menyungging pada wajahnya yang tampan. Cih, senyum palsu itu lagi. Aku jengah, mau sampai kapan ia berpura-pura seperti ini. Memperlihatkan sisi kuatnya pada semua orang, padahal yang sangat ia butuhkan adalah menangis sejadi-jadinya.

Lelaki yang kucintai ini menoleh bersamaan denganku pada arah suara. Kini, secara bergantian senyum itu mulai terlukis di wajah kami. Bukan, bukan lagi senyum palsu. Senyum tulus yang paling indah yang bisa kami berikan untuk ia, gadis kecil berbola mata hitam pekat yang wajahnya persis seperti diriku.

“Qiar, sini!”

Pria yang wajah tampannya sedari tadi tertutupi sendu itu kini memamerkan sederet gigi-giginya yang rapi, ia merentangkan kedua tangannya yang besar. Ah, lengan-lengan itu. Aku merindukannya, aku rindu bagaimana sedia kala, lengan itu adalah tempat favoritku untuk beristirahat. Dekapan-dekapan ternyaman yang dahulu dengan mudah kudapatkan, kini lengan itu tampak hampa dan kelihatnnya sama sepertiku, mungkin saja, ia juga rindu aku. Mungkin saja benar, atau bisa saja itu hanya harapanku. Yang kutahu, ia kini sama kosongnya denganku. Bedanya, sebentar lagi kekosongan itu akan terisi untuknya. Sedangkan aku, selamanya hanya akan menunggu waktu sampai kami bisa kembali dan kami, bisa saling mencintai lagi.

Gadis kecil berusia sembilan tahun itu berlari penuh sukacita ke arahnya. Kulitnya putih bening, persis seperti ayahnya. Aku bahagia melihat puteriku tumbuh mewarisi sifatku yang ceria. Setiap hari kami selalu melihatnya tersenyum dan mendengarnya tertawa. Baguslah, ia masih terlalu kecil untuk bersedih. Dan aku tidak akan tahan melihatnya, begitupun pria yang sangat berarti bagiku ini. Kami berdua setidaknya masih memiiliki tujuan dan impian yang sama; membahagiakan Qiara, memberinya seluruh isi dunia sendainya kami bisa, dan apapun yang bisa terjadi, kami akan mengusahakannya. Karena itulah, aku masih berada di sini sekarang. Meskipun ini hari terakhirku, tapi aku merasa sangat lega melihat puteri semata wayangku merasa bahagia. Aku menoleh pada Narendra, kulihat tatapan matanya yang tulus memandangi buah hati kita. Diam-diam aku merasa beruntung kembali, lihatlah, ini memang pria yang sangat kucintai. Ia lelaki yang hebat, dan kini bahkan ketika berjuang tanpa sandaran, ia tetap menjadi ayah yang hebat.

“Qiar sudah selesai sarapannya?” tanyanya, pada buah hati kita.

Qiara mengangguk senang, “Qiara gak sabar buat makan malem, Papa!”, ujarnya. Narendraku membelai kepalanya, aku menarik nafas panjang. Aku rindu bagaimana dulu, ia juga selalu membelaiku dengan cara yang sama.

“Memangnya kenapa sama makan malam?”, tanyanya.

Raut wajah Qiara bertambah cerah seketika. Sambil melompat-lompat dan tertawa, ia berkata dengan pelafalan dan intonasi yang sangat jelas dan begitu mudah dipahami padahal dikatakan oleh seorang anak kecil berusia sembilan tahun. Kalimatnya itu terlalu jelas sampai menusuk tepat pada jantungku.

“Nanti malem, Qiara udah boleh panggil Mami sama Miss Riri!”

Aku menelan salivaku. Sesak sekali rasanya, saat ini, aku benar-benar butuh ruang untuk bernafas. Rasanya aku akan segera lenyap ditelan sepi. Semua usahaku nyatanya memang tak akan menjadi apa-apa, karena semua sudah tak lagi sama. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah, berdamai lalu berteman dengan sepi yang tak berpenghujung. Aku mendongak, kutegakkan kembali wajahku yang membeku. Air mata sudah tidak berguna, untuk mendukung puteri kecilku ini, yang bisa kulakukan adalah memberinya energi. Akan kupastikan aku bisa memahaminya. Akan kupastikan, Qiara dan Narendra bahagia, bahkan bila itu berarti mereka harus baik-baik saja tanpa aku. Aku…tidak mengapa.

“Qiar, Papa tahu Qiar sangat bahagia dan Qiar seneng karena Miss Riri sekarang bukan cuma guru Qiar di sekolah, tapi jadi Mami juga di rumah. Cuma aja, Papa minta Qiar jadi anak baik dan nurut sama Miss Riri nanti, ya. Um, maksud Papa nurut sama Mami. Qiar juga jangan lupa berdoa untuk Mama, ya. Puteri Papa, Papa percaya kamu akan tumbuh menjadi gadis kuat seperti Mama. Terimakasih sudah jadi puteri papa ya, Nak.”

Narendra berkata selembut mungkin, dari suaranya kulihat warna abu-abu menyelimuti Mata cokelat madunya berkaca-kaca. Kemudian, saat gadis kecil itu menubruk pelukannya, tangisannya pada akhirnya pecah kembali.

Qiara melepas pelukan erat sepihaknya pada sang ayah. Jemarinya yang kecil mengusap air mata yang menghujani wajah teduh yang sangat ia kagumi itu.

“Papa, Qiara janji akan jadi anak baik buat Papa sama Mami. Qiara seneng karena sekarang Qiar punya Mami. Miss Riri selalu jagain Qiara kalau Papa lagi kerja dan Miss Riri juga temenin Qiara kalo Qiar sakit, makanya Qiar seneng bisa panggil Miss Riri sama sebutan Mami sekarang. Tapi Mami selalu kasih tau Qiara buat selalu doain Mama dan sayangin Mama. Jadi Papa jangan sedih lagi, ya. Qiara sayang Mami, Qiara sayang Papa dan Qiar sayang Mami.” Celotehnya, menenangkan.

Aku tersenyum getir, anakku terlalu dewasa untuk usianya. Ia bahkan terdengar seperti seorang gadis. Aku takjub sekaligus menyesal, seharusnya, aku bisa mendekapnya. Kulihat Rendra menggendong Qiara ke dalam pelukannya kemudian mengecup keningnya berulang kali.

“Qiar memang kebanggaan Papa.” Ucapnya, serius.

Ia lalu menurunkan Qiara dari gendongannya,

“Kalau gitu, Qiara tunggu di depan sama tamu-tamu, ya. Papa siap-siap sedikit lagi. Qiar temenin Papa ijab kabul, kan?” Tanyanya, pada sang puteri. Qiara mengangguk kemudian tersenyum senang lalu berlalu dan menghilang di balik pintu. Tersisalah kami berdua. Kini, Rendra kembali menatapku.

“Al, cintaku akan selalu sama.

Aku sangat mencintaimu. Namun, aku juga mencintai Qiara, Dia masih kecil, Al. Dia butuh ibu. Aku harap kau di sana akan mengerti pada pilihan kami. Aku benar-benar berharap kau mampu mengerti. Terimakasih sudah pernah mengisi hari-hariku yang berharga. Aku rindu kamu, Alena. Aku masih mencintaimu. Untuk sekaramg, beristirahatlah dengan damai. Kita akan bertemu lagi pada satu tempat terbaik menurut takdir. Tunggu aku, ya. Aku mencintaimu.”

Tangannya meraih bingkai foto di belakangku, wajahku ada di sana. Ia mendekapnya selama beberapa saat kemudian meletakkan kembali pigura berbingkai cokelat tua kesukaa itu. Dan lagi, tangannya yang besar itu melwati tubuhku begitu saja. Rasanya dingin tiap kali ia menembus aku yang kini sudah tak terbayang. Aku memanggil namanya, namun ia tak mendengar. Aku menangis di dadanya, namun ia tak bisa melihatnya.

Ternyata, memang inilah akhirnya. Ia benar, aku harus beristirahat dengan damai. Ia sudah merelakanku, puteri kami sudah merelakanku, kini saatnya giliranku. Aku harus merelakannya. Aku, harus merelakan kepergianku. Faktanya, aku salah mengira kenangan merah jambu itu sudah dihapus oleh Narendra, ternyata ia masih merindukanku. Tapi semua kenangan manis itu tidak lebih besar dari kesedihammya saat aku harrus pergi sembilan tahun yang lalu, ketika berjuang melahirkan dan memberi hidup untuk puteri semata wayang kami. Mungkin itulah sebabnya yang kulihat adalah begitu banyak sendu berabu-abu yang hinggap di pundaknya.

Kini, aku sudah harus dewasa. Kulepas semua rasa tak ikhlas itu, aku sudah siap. Aku, merelakannya. Seperti menyemai cinta di musim semi, seperti itulah aku akan mengenangmu. Aku tiak bisa menjadi musim dingin atau musim panas bagimu, karena bagianku sampai di sini saja. Meski begitu, kita bertahan dan bertambah kuat. Bersamamu, aku pernah bahagia. Kini berbahagialah, itulah yang kutunggu selama ini. Untuk itulah aku di sini. Setelah ini, aku pergi. Kemudian seperti katamu, mari bertemu lagi di titik terbaik menurut takdir. Terimakasih kembali, bahagiaku. Aku mencintaimu dan untuk itu, aku tak pernah keliru.

Aku mencintaimu; dengan luar biasa; tumpah ruah, tak terbendung.
Melesat melewati antariksa.
Wahai Tuan muda yang nyaris sempurna; izinkan aku meminta.
Di kehidupan berikutnya, mari kembali hidup bersama.
Kuulang, aku ulangi.
Aku cinta padamu.

Selesai