13 Years Regret

Maaf karena cinta pertamamu kini menjadi suamiku...

Posted by Linda Shierly on October 10, 2018

Aku selalu mendukungnya. Aku selalu menemaninya. Aku menyayanginya sampai rasa sayang itu retak, lalu berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain: benci.

Dulu, dia sahabatku. Orang yang paling kusayangi.

Namanya Lily. Cantik, manja, dan tertawa seolah dunia tidak pernah punya alasan untuk menyakitinya. Kami seperti dua saudari yang kebetulan lahir dari rahim berbeda. Ke mana pun pergi, selalu berdua.

Lalu datanglah satu hari di bulan Februari yang cerah. Seorang murid pindahan menyatakan cinta pada Lily di depan kelas. Namanya Dicky, dan ia setampan itu sampai satu kelas menahan napas. Lily menunduk, pipinya merona, lalu berkata, “Iya.”

Semua orang bertepuk tangan. Aku ikut bertepuk tangan, sementara di dalam dadaku dinding-dindingnya runtuh satu per satu.

Aku mencintai Dicky. Sejak lama, diam-diam, dan sekarang Lily yang memilikinya.

Aku tetap menjadi sahabat Lily. Aku bahkan jadi akrab dengan Dicky, dan kami bertiga sering pulang bersama. Aku meyakinkan diri bahwa perasaan itu bisa kuikhlaskan. Mereka tampak begitu bahagia.

Tapi tidak. Setiap kali Dicky tertawa, aku tahu aku sedang membohongi diriku sendiri.

Lalu tibalah tanggal 25 Mei. Lily menangis di bangku taman sekolah karena Dicky memutuskannya. Aku memeluknya, mengusap rambutnya, mengucapkan kata-kata penghiburan yang terasa hambar di mulutku. Di balik semua itu, ada bisikan kecil dan kejam yang tidak berani kuakui: sekarang giliranku.

Esok harinya, aku pergi. Aku tidak lagi menemuinya, tidak lagi menegurnya, bahkan ketika ia mencariku di lorong sekolah. Padahal aku satu-satunya temannya. Seminggu kemudian kudengar kabar bahwa Lily pindah ke Australia.

Aku tidak pernah bertanya kenapa.

Tiga belas tahun kemudian, aku bertemu lagi dengannya.

Entah bagaimana, aku sudah duduk di sampingnya di bangku taman kota, sama-sama memegang es krim yang mulai meleleh. Lily masih cantik. Rambutnya kini tertutup hijab, dan bibirnya membentuk senyum begitu melihatku, seolah tiga belas tahun itu hanya jeda sehari.

“Apa kabar?” tanyaku, memecah keheningan.

“Standar,” jawabnya sambil terkekeh.

Aku canggung. Ia masih seramah dulu, padahal dulu aku meninggalkannya begitu saja.

“Dicky sekarang…” Kalimatku terputus. Lily berhenti menggigit es krimnya. “Dia sudah menikah,” lanjutku pelan.

Lily menarik napas panjang, lalu tersenyum. “Kamu sudah?”

Aku mengangguk.

“Aku senang kita sama-sama sudah menemukan kebahagiaan,” katanya. “Aku juga sudah menemukan kebahagiaanku.”

Ada rasa lega yang hangat mengalir di dadaku. Kupikir, mungkin semuanya sudah selesai.

“Rumahku masih di Jalan Cempaka,” ujarnya kemudian, hampir memohon. “Besok datang, ya.”

“Ada apa?”

“Datang saja besok.”

Aku menangis menatapnya yang terbaring kaku. Air mataku tak mau berhenti. Lily yang kukenal ceria dan berisik kini membisu, terbungkus kain putih, sebentar lagi disetarakan dengan tanah.

Aku menyesal. Tuhan, aku sangat menyesal.

“Kak Lily divonis kanker sehari setelah Kak Dicky memutuskannya,” tutur adik Lily kepadaku. Suaranya sendu. “Waktu itu Kakak mencari-cari Kak Caca untuk pamit. Kami membawanya berobat ke Australia. Pengobatan di sana bagus, makanya Kakak bisa bertahan selama ini, padahal kanker biasanya paling lama enam tahun.”

Aku sudah tidak sanggup menyaksikan pemakamannya. Aku menemani adiknya, Vena, di rumah duka dan mendengarkan ceritanya dengan hati yang remuk.

“Rambut Kakak rontok, lalu mulai berhijab. Kakak tidak pernah mau pulang ke Indonesia, sampai beberapa bulan lalu dokter menyerah.” Vena menatapku. “Aku tahu Kakak kangen sama Kak Caca. Pertemuan kalian di taman itu bukan kebetulan. Kakak sengaja mengikuti Kakak.”

Isakku pecah.

Kamar Lily tidak berubah. Ia memang tak pernah pulang. Semuanya masih sama seperti tiga belas tahun lalu. Aku duduk di tepi ranjangnya. Di meja belajar, foto-foto kami masih terpajang: aku, Lily, dan Dicky. Di sudut paling kanan ada secarik kertas merah jambu. Tulisan tangannya masih jelek seperti dulu, tapi tintanya belum lama kering.

Aku sudah siap untuk pergi. Aku sudah bertemu dengan orang yang paling kurindukan sejak kanker menguasai tubuhku. Caca, sahabatku. Terima kasih.

“Maafkan aku,” bisikku pada kamar yang kosong. Hanya itu yang bisa kukatakan.

Hari ketujuh sejak kepergiannya, aku dan Dicky berjalan meninggalkan makam Lily. Di perjalanan pulang, mobil berhenti di lampu merah. Dicky menoleh padaku.

“Lupakanlah. Lily pasti memaafkanmu.”

Aku menangis lagi. Dicky menarik kepalaku ke dalam dekapannya.

Maafkan aku, Lily. Maaf karena cinta pertamamu kini menjadi suamiku.